Kebisingan

Gue orangnya selalu pengen tau. Kenapa lu begini? Kenapa kok harus gini? Apa dasar kamu melakukan ini? Kenapa kok semuanya harus gitu?

Pertanyaan-pertanyaan bodoh sejenis itu yang sering bikin makan ati orang-orang yang gue ‘debat’.

Dan wow sekali ternyata ada temen-temen yang tidak mepermasalahkan kecerewetan gue dan dengan sabar hati menjelaskannya ke gue. Orang-orang yang jarang gue sadari, bahkan gue selalu kurang dan ingin menemukan orang yang bener-bener paham sama gue.

Gue ngerasa gue harus melakukan suatu perubahan. Gue tau ada banyak banget sifat dalam diri gue. Di mana tiap sifat itu saling tumpang tindih, saling mengalahkan dan sering salah sikon(situasi dan kondisi-red).

Mungkin untuk gue yang sejatinya kepopers(bukan Kpoppers), gue harus bisa memanfaatkan ‘kelebihan’ gue ini buat sesuatu yang lebih bermanfaat. Bukan sesuatu yang nggak berbobot dan cuma buat ajang menentang pendapat orang lain. Di mana hal itu cupu banget karena cuma orang yang deket sama gue yang kena semprot sama gue-,-

Di hari-hari gue, pasti kepala gue selalu penuh dengan pemikiran-pemikiran ngalor ngidul, ke masa depan maupun masa lalu, yang masuk akal maupun tidak. Segala hal seakan aku pertimbangkan. Seperti misal besok mau menemui guru buat minta surat keterangan, sewaktu tercetus pemikiran itu, sejak itulah gue bakal selalu mikirin apa-apa yang harus gue lakuin, semacam reka kejadian yang akan terjadi terpampang di pikiran gue.

Seharusnya kalau hal semacam itu gue pikirin, bahkan hal terkecil seperti gue mau ke kantin dan gue mau ngapain aja pun gue pikir dengan sungguh-sungguh, tentu gue bisa untuk setidaknya menahan hasrat gue yang demen banget kepo, sok tau, dan suka mempertanyakan alasan di balik sesuatu dan lebih mengutamakan untuk memikirkannya dulu sebelum bertanya. Dan seperti yang gue bilang, gua cuma cerewet ke temen-temen yang deket sama gue. Selebihnya terutama sama orang asing dan orang lebih tua, gue mendadak kaku banget, mematung :3 Padahal di momen semacam itulah(momen formal) otak gue penuh pertanyaan-pertanyaan dan hasrat kepo pun meluap-luap, namun apa yang terjadi? Gue hanya memendamnya dan ujung-ujunganya cuma mampu bertanya sama temen gue yang nggak jauh lebih tau dari gue.

Hal inilah masalahnya. Gue belum bisa mengendalikan di mana saat buat kepo kapan buat kalem. Kapan buat berpendapat, kapan buat diem. Banyak banget hal-hal yang menurut gue nggak pas dan selalu terjadi di hidup gue, seakan gue dikasih kesempatan buat memperbaikinya namun lagi-lagi gue mengulur waktu dan kesempatan itu kadaluarsa. Sering. Banget. Dan. Bikin. Galau.

Yang paling parah, gue tau itu keliru. Gue tau itu nggak baik buat gue. Gue tau gue pengen berubah. Tapi lagi-lagi seakan ada yang menahan gue. Seperti ada yang harus gue lakuin dulu sebelum ngelakuin ini. Tapi gue pikir itu cuma alasan cemen gue. Gue yang terlalu takut mengambil langkah awal. Gue yang ragu-ragu. Gue yang pesimis. Gue yang selalu mikir. Gue yang selalu jatuh dalam pemikiran gue sendiri. Ilusi yang belum terjadi. Belum ada. Bahkan tidak pernah ada. Hanya kita yang terlalu pengecut. Yang terikat oleh rasa takut. Punya jutaan alasan untuk menunda.

Selain ketakutan-ketakutan itu, ada hal lain yang mengganggu gue, yaitu ketidakpuasan. Semua yang tidak ada, semua keinginan gue, semua kerakusan gue, semua yang gue pengen itu ada, seperti sahabat yang memahami, teman yang sehati, keluarga yang menyayangi, sebenarnya mereka sudah ada, bahkan kita sudah punya modal buat menemukannya. Tapi cara kita mungkin salah. Mungkin karena kita sok tau, kita salah fokus, kita iri dengan orang lain, terlalu mementingkan kehidupan orang lain, sehingga lupa melihat diri kita sendiri. Lupa memperhatikan apa-apa yang sudah kita miliki. Apakah masih ada atau malah kita sia-siakan karena kurang bersyukur dan terlalu menganggapnya remeh.

Sebenarnya yang kita perlu lakukan hanyalah mengaturnya dengan tepat. Kita punya akal, kita punya nurani. Kita bisa berusaha dan merancang strategi. Tinggal kita sendiri mau apa tidak. Peduli atau tidak.

Terkadang apa yang kita lihat, berbeda dengan apa yang orang lain pahami. Kita tidak harus mengubah pemahaman orang lain itu. Memang siapa yang peduli? Bisa-bisa waktumu habis untuk mengurusi kehidupan orang lain. Jelas-jelas tidak efektif sama sekali.

Bila ingin mengubahnya. Ubahlah dirimu dahulu. Entah akhirnya prinsip mereka akan sejalan denganmu atau tidak, itu masalah nanti. Bila sudah memikirkan ending tapi nama tokoh pun masih belum tercetus, apa yang bisa diharapkan?

17/04/2016

N.b : Bahkan setelah menulis ini pun gue masih ragu. Padahal ada Allah swt. yang lebih tahu. Stop sok tahu untuk hal semacam ini. Percaya dan jalani. Maju jalan, jangan jalan di tempat apalagi istirahat di tempat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s