Pemikiran Tengah Malam

Assalamualaikum.
Selamat jam 2 malam!

Hei, I’m back 😀

Jadi, barusan aja gue baca-baca postingan lama gue. Mulai dari post pertama gue, Makna Kehidupan, terus lanjut ke Gue NokturnalTahun Baru, Semester Baru, sampai Kompleksitas (yang semuanya aneh-aneh).

Dan yang tambah aneh adalah selain gue heran kenapa dulu bisa nulis gitu, gue juga bangga sama tulisan-tulisan gue dan pengen share ke orang-orang (narsis ga tuh? wkwkwk). Tapi gue suka, tulisan gue yang dulu bisa bikin gue di masa kini jadi lebih semangat dan sadar diri kalau dulu gue pernah keren dan bisa nulis kata-kata keren.

Sebenernya hari-hari ini adalah hari libur di tengah-tengah momen UTS. Gue masih ada 3 matkul lagi buat dibabat habis (gue yang ngebabat ya, bukan gue yang jadi objeknya) hari Senin, Selasa, Rabu besok, dan harusnya– rencananya gue mau nyicil baca materi Pengantar Pengelolaan Keuangan Negara yang banyak abis, tapi apalah daya belum ter-realisasi sampai sekarang (cry) dan gue malah sibuk tidur, bangun, tidur, bangun, tidur lagi dari kemarin, dan sekarang malah asik merenungi diri :”)

Hmm.. Yang pengen gue omongin (lah emang tadi ngapain kalau bukan ngomong nulis?) adalah.. orang-orang pasti berubah ya. Bahkan waktu baca blog lawas gue, gue ngerasa macam nonton adegan, ada gue di sana– gue yang lain.

Entah bagaimana waktu dan orang-orang di sekitar kita bisa mengubah kita, menjadi lebih baik ataupun lebih buruk. Tanpa kita sadari, bener-bener perlahan, smooth.
Seakan begitu karena seseorang susah banget buat menyadari perubahan di diri sendiri kecuali ditegur orang lain, diberitahukan oleh orang lain. Dan di situlah peran teman, merekalah yang bisa melihat dan menilai kita secara keseluruhan.

Dan seringkali waktu kita ditegur, kita merasa itu tidak benar, menyangsikan ucapan mereka. Apa benar aku begitu? Masa sih? Iyakah?
Udah berulang kali gue merenung, membuat penilaian terhadap diri sendiri, tapi yah itu nggak begitu berhasil, soalnya yang menilai diri gue sekarang adalah gue yang baru, gue yang udah berubah.

Kita nggak mungkin bisa nanya pendapat diri kita yang dulu soal kita yang sekarang. Jadi, yang paling tepat adalah bertanya kepada kawan yang udah bareng-bareng sama kita sejak lama. Tanya duluan sebelum ngerasa sakit hati waktu dibilang: “Lo kok berubah?”.

Juga, kita bisa nilai diri sendiri lewat tulisan, bukan jepret diri (iyasih lo berubah, tambah tinggi, tambah gendut). Tulisan lo di masa lalu menggambarkan cara pikir dan perilaku lo dulu, lo bisa lihat gimana lo yang dulu, silakan kaget dan heran dah pokoknya.

Intinya.. bagus banget nulis, lebih bagus lagi kalau menjaga tulisan itu buat introspeksi diri 🙂

Jadi, apakah benar gue berubah?

 

 

Bumi Sarmili Damai.
051117.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s