Running Out of Time

Sore semua.

Impian gue banyak banget, sedangkan gue nggak tau kapan gue harus hengkang dari dunia ini.

Impian gue tinggi banget, sementara gue nggak tau kapan orang-orang yang ingin gue wujudkan impiannya itu masih berada di dunia yang sama bareng gue.

 

Kemarin malam autoplay YouTube membawa gue ke sebuah lagu: Nothing’s Gonna Change My Love for You. Awal denger gue mikir, “Lagu apaan nih? Enak banget, lembut.”, “Mirip-mirip soundtrack film Taiwan-Mandarin gitu deh?”

Waktu gue tengok judulnya, ternyata lagunya Westlife, lagu lawas. (Sok kenal aja sih gue sama Westlife, lol.)

Lagunya mungkin nggak sesedih itu. Nggak cukup bisa memantik seseorang buat nangis. Cuma bikin sakit ati aja, nyesek (dasar lemah :3). Tapi videonya, bro, cuplikan film Up– yang emang kalau tayang di TV dan sampai di bagian itu gue ga sanggup liat dan sengaja menyibukkan diri dengan hal lain atau minggat ke kamar, sukses bikin gue yang awalnya seneng-seneng nyanyi lagu-lagu sebelumnya, tiba-tiba nangis. Sial.

Pertanyaannya: Kenapa gue nangis?
A. Cengeng
B. Laper
(Abaikan-_-)

Gue emang lemah, perasa banget, gampang emosi, gampang nangis. Sampai gue udah kebal dikatain cengeng.

Gue nangis, mantep banget rasanya, bro. Udah lama juga ga nangis yang sakit banget, terakhir keknya waktu nonton film Aashiqui 2 (spoiler: nyebelin sih ceritanya, sedih tapi cowoknya cemen, gitu aja nyerah! dasar.) Potongan film Up dan musik itu membangkitkan pemikiran. Pikiran gue penuh, ga bisa diajak kerja sama, tiba-tiba aja keinget impian gue, yang sangat banyak, absurd, sangat tinggi, yang bertabrakan dengan fakta waktu yang gue miliki terbatas dan nggak tau di mana batas itu.

Bapak Ibu di film Up itu punya impian bikin rumah di Paradise Falls. Impian zaman kanak-kanak yang sempat terlupa akhirnya dibangkitkan kembali. Nabung, ngumpulin duit. Tapi rupanya semesta tidak mengizinkan. Ada aja hal yang mengharuskan mereka menggunakan tabungan itu: pecah ban, rumah rusak, sakit.

Sampai akhirnya celengan mereka tersisihkan, berdiam di ujung lemari yang gelap (Sedih banget waktu itu, mereka udah berhenti berusaha 😦 ). Mereka menjalani kehidupan mereka hari demi hari, sampai uban itu memenuhi kepala mereka (sedih 😦 time passed and they still don’t get what’s they want). Hingga Bapak teringat kembali akan impian itu dan berencana pergi ke sana bersama Ibu. Namun lagi-lagi hal itu nggak terwujud, waktu Ibu di dunia sudah habis.

Dan, bagaimana bila itu terjadi di hidup gue? Boleh aja saat ini gue bahagia,menggebu-gebu sama impian gue, tapi gimana kalau faktanya impian itu nggak bakal kesampaian?
Terus, kita hidup itu buat apa sih? Baiknya kita harus gimana sih? Realistis? Bermimpi tinggi setinggi-tinggi-tingginya? Lalu, apa resiko keduanya?
Nenek, orang tua, udah nggak muda lagi, gimana kalau gue kehabisan waktu? Bahkan, gimana kalau gue yang “say bye” duluan? (Atau mungkin ga sempet say bye?) Apa aja sih yang udah gue perbuat? Apa tujuan “hidup” itu udah bener-bener tercapai?

Pemikiran-pemikiran macam itu lah yang berkeliaran di kepala gue.
Pemikiran yang berakhir tanpa jawaban.

Gue 19 tahun, manusia yang bodoh dan nggak tau apa-apa soal hidup. Gue 19 tahun, umur udah tua, tapi tingkah kekanakan banget dan nggak mau tua.
Dan seperti biasa, yang gue lakukan adalah menenangkan diri– cari hal lain buat menenangkan pikiran (padahal mah kabur–as always, lari dari pemikiran yang menyakitkan).

Ga ada hasil yang pasti dari pemikiran itu (tipikal gue-_-).

Tapi gue memutuskan untuk terus bermimpi, karena itu yang bikin gue lebih “hidup“.
Terarah dalam melangkah.

 

 

 

 

Semangat, Guys!
🙂

One thought on “Running Out of Time

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s