Rasionalitas

Kalau ada orang yang bilang ke lo : “Lo rasional banget dah”, apa yang bakal lo pikirin? Apakah menurut lo itu pujian? Terus gimana tanggapan lo?

Gue kenal banyak orang yang rasional, tapi gue lebih kenal sama orang yang sangat nggak rasional. Dia gue sendiri.

Ketika ditanya saudara, “Ntar lu balik posko jam berapa?”

Gue selalu nggak punya jawaban untuk itu. Gue selalu belum ada rencana buat itu.

I tend to keep my option open.

Yah, gue memang suka kebebasan.

Lalu lagi, “Lu mau ikutan gue apa dia?” Gue : “Pengen ke Perpusnas sih gue.” “Eh, tapi liat nanti deh.”

Banyak banget–bahkan hampir semua– keputusan gue yang nggak berlandaskan pemikiran yang matang, cuma ngandelin kata hati gue, mempertimbangkan kenyamanan gue.

Sering di detik-detik terakhir keputusan gue berubah. Sering gue mikir (mikir pakai kepekaan hati :3) lama buat memutuskan sesuatu. Dan itu jadi percuma dan nggak berguna soalnya ujung-ujungnya keputusan gue berubah lagi. Gue membuang-buang waktu gue di sana.

Gue udah hidup 19 tahun lebih (alhamdulillah), tapi baru ada satu orang yang dengan gamblangnya bilang gue nggak punya pendirian. Dalam hati gue waktu itu, gue gemes banget, nggak terima lah. Gue mencoba membela diri, wajar. Tapi gue stop aja, ga bakal ngena juga kalau gue jelasin soal diri gue ke dia, ga bakal paham juga B-)

Beberapa hari lalu gue bener-bener lelah sama diri gue. Gue mikir, gue udah nggak anak-anak lagi, gue udah 19 tahun hidup dalam ketidakrasionalan, masa sih mau gini gini aja? Jujur gue iri, sama mereka mereka yang memegang kendali penuh hidupnya, yang dengan tegas memilih A dengan harus melewatkan B.

Satu pertanyaan bodoh gue lontarkan ke dia–yang usianya lebih muda dari gue, tapi sangat dewasa :’)

“Kalau ada pilihan A sama B, pernah nggak kamu ambil keputusan yang secara hati nggak bahagia, tapi setelah dipikir-pikir itu harus dilakukan?”

IMG_20180315_121634_749

Serius itu bodoh banget. Pasti, dengan mutlak, jawaban dia bakal “iya”, kan?

Yah, bukannya gue nggak nyadar, bukannya gue nggak mau berubah. Gue mau. Gue pengen. Gue bosen sama gue yang membingungkan orang-orang. Gue lelah dan takut nggak siap kalau ketemu kondisi yang susah banget buat ambil keputusan kalau cuma ngandalin hati seperti yang biasa gue lakuin.

Tapi sepertinya gue salah langkah. Gue memulai semuanya dengan kebencian  Membenci diri gue sendiri. Gue protes, gue melawan apa yang ada di diri gue. Hal yang seharusnya nggak gue lakuin.

Gue mungkin bertanya-tanya–Iya, lagi-lagi gue (cuma) kebanyakan mikir. (Gue juga selalu kebanyakan mikir sebenernya, itu makanya gue bilang soal Kompleksitas , yaitu adanya 2 hal yang bertentangan dalam diri gue.)– gimana caranya mengubah ‘budaya’ dalam kehidupan gue.

Yang gue tau, gue harus ambil langkah. Nggak cuma bising doang di dalam pikiran gue. Nggak cuma introspeksi tanpa aksi. Tapi sayangnya gue termasuk orang yang deg-degan sama hal baru, asing.

Satu yang gue tau, yang jadi kunci utama, gue nggak boleh benci sama diri gue sendiri. Gue harus berdamai, menerima :’)

So, do you have any suggestion what should I do next? Kindly tell me 🙂

 

 

 

15/3/2018

SEMANGAT!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s