25 Hal yang Perlu Kamu Tahu Sebelum Memasuki Usia 25 Tahun

Usia 25 tahun sering diasosiasikan sebagai penanda kedewasaan seseorang. Seperempat abad menjalani hidup di dunia diharapkan bisa membuat seseorang cukup bijak menghadapi berbagai dinamika kehidupan di depan mata. Di usia ini pula banyak orang merasa hidup mereka “benar-benar dimulai”.

via 25 Hal yang Perlu Kamu Tahu Sebelum Memasuki Usia 25 Tahun — Hastag Campus

Sesuatu untuk Kamu

Kuberi tau sesuatu, Nak

Dunia ini sudah renta

Cukup renta untuk turut serta mengurusi masalah remehmu jua

Sudah kenyanglah dia dengan itu semua

Baginya kamu bukan siapa-siapa

Awas, jangan kecewa

Sekali lagi kuingatkan kamu, Nak

Dunia ini terus berlari tanpa menunggumu serta

Dirimu ya dirimu, dirinya tidak mau tau suatu apa

Kamu bukan siapa-siapa, jangan sampai lupa, ya

Jadi, berlari lah juga, segera

Jangan pernah mengeluhkan lelahnya harimu kepadanya

Dengan dirimu sendiri kamu bisa

 


 

Eh, tapi bisa apa, ya?

Maksudku, apa bisa, ya?

Hehe.

06.06

24/10/2018

My Negative Mind (1)

Lama gue nggak nulis. Belakangan ini baru kepikiran: “Eh, lama nggak nulis, nih. Nulis kuy, rindu”.

Barusan aja gue pengen nge-post puisi. Soalnya pikiran gue lagi ribut dan random banget. Mood-nya pengen melampiaskan lewat puisi. Tapi gue berubah pikiran.

Itu karena waktu gue lihat di draft, rupanya ada dua tulisan pending. Gue terbahak waktu baca judulnya. Payah.

Kalian tau apa? Yang pertama itu “Bukan Masalah!” (Iya pakai tanda seru!) dan satunya adalah “Menghidupi Hidup”. Gue yakin 101% gue nggak bakalan ngelanjutin tuh tulisan. Selain karena gue nggak mood, gue juga udah kehilangan ‘latar belakang’ buat nulis tulisan itu.

Setiap gue nulis, pasti itu karena keresahan. Juga sebagai upaya buat menyemangati diri, meluruskan alur berpikir, dan berusaha mencari yang positif di antara peristiwa-peristiwa yang nampak buruk.

Kalau kalian perhatiin, tulisan gue selalu penuh dengan aura negatif. Selalu saja dikelilingi dengan negative vibes. Bisa dilihat dari judul-judul yang datar dan misterius ala-ala semacam Pemikiran Tengah Malam, Episode Kehidupan, juga Rasionalitas yang semuanya intinya soal keresahan gue, ditambah pemikiran-pemikiran negatif-sarkastik yang sangat menggurui dan sok dewasa.

Kenapa gue ketawa? Lebih tepatnya menertawai diri sendiri? Itu karena 2 judul tadi sangat-sangat membawa aura positif nan cerah XD Yang dalam hati aku mafhum kenapa tulisan itu nggak kelar, karena pasti sedetik ketika aku kepikiran judul dan mulai menulis, pikiranku langsung teralihkan dengan hal lain. Sesuatu yang kelam, sedih, dan penuh pertentangan.

Udah pernah gue bilang di salah satu tulisan gue kalau gue adalah orang yang optimis sekaligus pesimis.

Berpikiran optimis akan masa depan yang misterius, tapi juga setiap harinya berpikiran jelek soal dunia, kehidupan, dan terutama manusia, termasuk diri sendiri.

Gue bener-bener gemes sama diri sendiri. Kenapa nggak tanggung jawab buat ngelarin tulisan yang udah gue mulai sendiri. Tapi mau gimana lagi, gue bener-bener nggak bisa inget kenapa gue bisa nulis macam gitu di awal. Apa yang gue pikirin dan gue rasain saat itu, gue nggak inget.

Jadi, biarlah tulisan itu tetap menjadi draft ya?

 

 

 

 


Nggak tau ini gue nulis apaan.

Biar jadi bahan ketawaan di masa depan waktu gue baca ulang.

Bye.

Di Persimpangan Jalan

Kemudiku terhenti malam ini

Tepat pukul satu dini hari

Di persimpangan jalan itu aku menepi

Kebingungan lalu berhenti,

Sebenarnya apa yang kucari-cari?

 

Jalanku remang jauh membentang

Di belakang telah tertinggal jauh menghilang

Di persimpangan jalan aku terhenti bimbang

Haruskah melaju atau memilih pulang

 

Di persimpangan jalan,

tiada kutemukan jawaban

Tapi kuberanikan untuk melaju perlahan

 

Kusebut Itu Tidak

Hei,

Sudah berapa lama sejak kita saling tahu?

Sebuah perkenalan untuk awal yang baru

Gema namaku dan namamu melayang di angkasa pagi itu

Tanpa tiada yang tahu, pun diriku, bila radarku telah menangkap frekuensi gemamu

 

Gurat-gurat pilihan tercipta

atas keputusan manusia-manusia

Adalah aku di antaranya

 

Ku langkahkan kakiku perlahan

Lamban penuh kehati-hatian,

Brutal tanpa pikir jauh ke depan

 

Jalur kita memang tengah bersisian

Dengan segala konsekuensi dan kemungkinan

Kau tentu tahu itu, kan?

Meskipun terkadang memang menyerbu tanpa peringatan

 

Hei,

sampai di mana kita kala ini?

Revolusi matahari terjadi tanpa kita sadari

Bulir jam pasir yang jatuh karena gravitasi

kurasa tidak akan bertahan lama lagi

Dan aku ketakutan atas fakta yang kulalui

 

Aku bahagia,

sangat ku berharap kau begitu pula

Momen-momen telah kita lalui bersama

Dengan tatap muka,

dari surya menyapa hingga pukul dua puluh dua hampir setiap harinya

 

Tertawa, bekerja, bercanda, sesekali belajar bersama

Terkesan normal untuk semua orang seusia kita

Tapi tidak untuk diriku rupanya

Yang tiada bisa bedakan apa itu rasa suka, dan hanya sekedar bahagia

 

Aku suka,

betapa interaksi kita berbeda

Kerap berjumpa jadikan kita hampir tak pernah bercakap di sosial media

Tak perlu merekam jejak percakapan kita di sana

Cukuplah tercatat di benak aku, kamu, juga mereka

 

Tapi kusebut itu tidak,

ketika setetes rindu menenggelamkan segalanya

Sepercik kesadaran malah menyesakkan dada

Dan aku ingin menjadikanmu milikku seorang saja

 

Ku sebut itu tidak,

ketika jarak nyata ada di antara kita,

membentang jauh dan melarangku tuk menemuimu di tempat biasa kita bercengkrama

Dan ketika perbedaan yang sedari awal telah tercipta,

menjadi garis putih yang kontras untuk dua warna

 

Kusebut itu tidak,

ketika ku ingin berlari ke arahmu

karena ingin tahu apa kiranya isi benakmu

Dan ketika semua tak lagi sama

saat pemikiran-pemikiran yang memuakkan mendera

 

Dan kusebut itu tidak,

saat kau riang berkelakar bersama denganku

Namun setelah kita tak lagi bertemu

kau hanya diam membisu

Seakan kau menepisku sebelum maju

 

Yah, mungkin hanya aku yang terlalu lugu atas asumsi semu

 

 

 

___________________________________

Tegal.

11:95

Pada Zaman Dahulu Kala

Aku adalah Sinderela,

yang harus pergi meninggalkan istana saat tengah malam menyapa

Aku adalah Sinderela,

yang setiap malamnya selalu penuh harap pagi kan datang segera, hingga datanglah kesempatan untuk berjumpa

Pagi-pagi sekali aku sudah siap sedia, menyambut takdirku untuk setetes momen berharga

Kecewa akan menerpa bila aku tak mampu temui sosokmu di sana

Manusia ramai datang, tersenyum gembira, namun tiada sedikitpun kau ada di antaranya

Aku membaur, tertawa dan bercanda, hanya untuk sembunyikan dalam-dalam bahwa pikiranku bekerja ganda

Sebagian melayang jauh entah kemana, sibuk menerka-terka

Sungguh ingin aku bertanya, tapi terlalu gentar akan dipandang sebelah mata

Aku adalah Sinderela,

yang untuk berbahagia cukup dengan menjalani waktu berdua bersama

Milky Way

Jika aku lupakanmu,
kuharap ini akan lesakkan bayangmu

Jika waktu berlalu dan ku terpaku akan sosok lain yang bukan kamu, sapalah aku dalam mimpiku

Pendar cahaya bersatu menjelma kamu yang aku mau

Kamu yang membutakan netra, membekukan logika, menghangatkan jiwa

Aku mengagumimu, sangat
Tanpa susah, tiada lelah
Tanpa perlu tahu sadar-igau kah diriku atas rupamu
Tanpa acuh fisik fiksimu
Tanpa enggan mendamba indahnya isi kepalamu

Kamu,
Diriku kosong hanya nantikanmu
Terpekur harapkan eksistensimu

Tapi apa peduliku,
Yang penting,
aku cinta kamu
Galaksi Bimasakti-ku

 

 

Arta.
22/07/2017
___________________________

Untuk Alle dan Kartika, izinkan aku menyimpan Galaksi kesayanganmu di sini. Lirihku seraya menyentuh tempat sesuatu yang berdegup kuat itu berada.

Dan untukmu Kak Julie, tokoh fiksi ciptaanmu berhasil menjatuhkan hatiku berkali-kali, yang kuharap tak akan berhenti.

 

P.s.

Ini gue tulis saat gue bener-bener jatuh cinta sama Galaksi Bimasakti, satu dari ratusan tokoh fiksi yang pernah gue temui.

Gue tulis biar gue ingat bahwa dulu gue begitu mencintainya.

Black Hole

Kamu tunjukkan padaku hatimu,
Terbuka luas untuk kuselami dengan bebas

Hangatnya enggan membuatku bergegas,
Kedamaian itu melingkupiku puas

Dirimu proyeksikan superhero favoritku,
Ketidaksempurnaanmu yang membuatku terbelenggu,
Dalam rengkuhmu lantang kuteriakkan ini rumah tinggalku,
Dan senyummu panorama terindah bagi mataku

Rasa manis datang menerpa,
Bukan hanya sapa namun hendak bermukim lama,
Sungguh ini rasa yang beda,
Sempat buatku terbata membacanya

Tiada yang lain hanya dirimu,
Poros revolusiku

 

—–
7.15 a.m
22/07/2017