Manusia Paling Tahu

Hai. Lama banget gue nggak nulis. Sedih rasanya. Padahal kalau dipikir-pikir gue nggak ngapa-ngapain. Emang gue ngapain aja, coba..?

Dan draf ini entah sejak kapan terabaikan. Adalah kebiasaan gue buat kepikiran sesuatu dan nulis judul duluan, sampai akhirnya kehilangan mood dan ide tentang apa yang mau gue tulis sebelumnya.

Jadi, di sini gue mencoba menebak-nebak apa yang dulu mau gue tulis. Manusia Paling Tahu. Gue rasa tulisan ini tentang gue yang mengasihani diri gue sendiri yang terhalang oleh pikiran gue. Tentang ke-sok tahu-an gue soal masa depan. Tentang kekhawatiran dan ketakutan gue sehingga gue memilih untuk lebih percaya sama pikiran gue sendiri. Percaya kalau orang lain itu menakutkan, percaya kalau gue malu-maluin, percaya kalau gue buruk di mata orang lain.

Ketika manusia lain berubah, gue merasa gue adalah orang yang sama seperti gue di usia 6 tahun, setidaknya dalam satu hal yang gue tau, mindset. Kalaupun gue berubah, pasti menjadi lebih buruk: lebih cuek, lebih apatis, sangat nggak peka, dan tambah egois.

Gue nggak ke mana-mana karena pikiran gue sendiri. Gue lari dan sembunyi dari realita. Gue takut dengan masa depan. Membuat gue cuma hidup dalam pikiran gue. Gue tanpa sadar memenjarakan diri gue sendiri. Oke, jadi selain egois gue memang pengecut.

Pertanyaannya adalah apa yang membuat gue seperti ini?

Iya, selain diri gue sendiri tentunya– boleh dibilang itu adalah ketidaktahuan. Manusia nggak tau apapun soal masa depan. Dan ketika gue sok tahu, ngerasa keyakinan yang ternyata adalah ketakutan gue itu bener, gue menutup diri dari fakta-fakta yang sebenernya terjadi. Entah itu yang membahagiakan, bikin sedih, malu-maluin, bikin marah dan kecewa, sayangnya fakta tetaplah fakta.

Sepanjang gue nulis ini, gue jadi sadar kalau kesalahan gue adalah…gue diam. Gue nggak ngapa-ngapain saat hati gue nyuruh gue beli dagangan kakek-kakek di pinggir jalan, gue memilih pura-pura nggak tau saat hati gue bilang buat sedikit memberi ke ibu-ibu yang sedang istirahat di trotoar sambil menggendong anaknya, gue yang pingin bantuin ibu-ibu di kantor yang tangannya penuh karena membawa banyak barang tapi nggak pernah gue lakuin ( damn, parah banget gue :”(( ). Gue rasa itu yang membuat gue tambah apatis.

Sama halnya saat gue punya pendapat untuk dikatakan, punya pertanyaan yang butuh disampaikan, punya keraguan untuk ditenteramkan. Gue cuma diam. Gue cuma mendengarkan suara dari kepala gue, yang nggak jarang berusaha gue bisukan. Lalu sudah, berlalu begitu saja.

Gue menolak geliat hati gue dengan pemikiran yang nggak berdasar. Ketakutan yang entah apa itu sebenarnya. Rasanya semua isi pikiran gue adalah hal buruk. Buruk, tapi gue turutin. Hampir semua yang buruk gue turuti dan gue percaya. Sampai gue jadi bingung, yang sebenernya gue itu yang mana. Hati gue atau pikiran gue. Niat gue yang menguap gitu aja atau tindakan yang nggak pernah ada.

Gue seakan cuma menghitung waktu. Menanti ketidakpastian. Memiliki banyak harapan sekaligus takut untuk melihat apa yang akan terjadi di masa depan. Gue bertambah usia, namun tetap nggak tau apa-apa. Kosong.

Gue tanpa sadar membentuk kebahagiaan semu, kenyamanan yang sementara, tanpa mencoba menyelesaikan sumber masalahnya. Hanya karena takut…menerima konsekuensi? Sial, itu makin memperjelas kalau gue pengecut.

Jujur gue belum tau gimana. Gue sekarang bisa mikir begini, tapi entah nanti saat gue berada di perdebatan antara hati dan pikiran apa yang akan gue lakukan. Semoga aja gue bisa mengambil kontrol atas diri gue sendiri. Bisa hidup sesuai keinginan gue sendiri, bukan berlandaskan rasa takut.

Pada kenyataannya, nggak ada manusia yang paling tau. Yang ada, mereka akan bertambah tau sepanjang hidupnya. Jadi, tolong, aku, janganlah keras kepala. Jangan merasa kamu adalah manusia paling tau tentang pikiran orang lain, tentang masa depan. Atau hidupmu nggak akan pernah sepenuhnya menjadi milikmu. Atau kamu hanya akan hidup di penjara eksklusif buatanmu.

 


Jakarta, 10 September 2020.

Alfina.

Puisi #3

Kenapa manusia mendambakan validasi?

Mencari dukungan di kanan kiri,

Menampilkan diri yang dipoles mumpuni

Berkualitas tinggi, tidak bercela, lagi terpuji

 

Dalam hati merintih ingin ditemani

Mau dipercaya juga dipahami

Mendengarkan mimpimu dengan antusias tinggi

Tersenyum bersamamu dan tidak saling memunggungi

Keluh kesahmu didengarkan dengan sepenuh hati

Kamu genggam erat semuanya agar tidak pergi

Apa daya, tidak bisa dipungkiri

Akhirnya kita hanya berkawan dengan diri sendiri

 

 


10 Mei

Alf.

Water Drops

Tes.

Tes.

Tes.

Tangan kiriku menyeka tetes demi tetes air yang tak berhenti turun.
Langkahku melambat setelah sebelumnya terus berlari entah untuk berapa lama.

Seharusnya tidaksepeti ini. Aku tidakpernah berlari. Tidak pernah kubiarkan tubuh indahku bermandikan peluh. Sangat menjijikkan.

Malam ini hujan turun dengan lambat. Seingatku sudah lima jam langit menangis. Menumpahkan segala beban yang sudah terakumulasi penuh.
Namun bukan itu yang membuat malam ini berbeda.

Biasanya adrenalinku terpacu, sangat mendebarkan ketika aroma khas tanah basah bercampur dengan anyir darah menyerbu masuk ke dalam indra penciumanku.

Sialnya malam ini aku gagal.
Artinya, besok ada dua nyawa yang menanti untuk kupermainkan.

 

 


Sama seperti tulisan gue yang sebelumnya. Tulisan ini pernah gue post di wattpad.
Tulisan dengan genre 100 kata ini terinspirasi dari situs kemudian.com.
Dulu gue pernah nulis di sana juga, banyak banget 100 kata yang bagus bagus. Tapi baru di wattpad gue nulis genre itu.

Soundless Sleep

Hampir tengah malam. Segalanya gelap. Tak ada aktivitas manusia yang kudengar selain helaan nafasku yang tersendat-sendat.

Tubuhku otomatis terjaga setelah rehat selama dua jam.
Aku tidak paham bagaimana tepatnya tubuhku bekerja, tapi yang jelas tiga bulan terakhir ini jadwal tidurku benar-benar kacau. Aneh memang karena aku menyadarinya. Harusnya setelah segala hal yang terjadi aku tidak cukup peduli untuk sekadar memerhatikan jam tidurku.

Padahal kali ini aku benar-benar ingin tidur. Tidur yang lama. Selain karena sakit di kepalaku yang tidak bisa di tolerir, juga karena kurasa tak ada hal lain yang dapat kulakukan saat tubuhku terbebat kain putih ini.

 

 


 

Pernah gue post di akun wattpad gue.
Maaf untuk username dirahasiakan.

Berubah atau Ter-ubah

Siapa yang tidak sepakat dengan pernyataan kalau manusia senantiasa mengalami perubahan?

Dan ketika membahas mengenai perubahan, yang ikut menyertainya adalah waktu. Atau bisa dikatakan adanya perubahan adalah karena waktu yang terus bergerak– namun juga tidak selalu seperti itu.

Waktu tidak dapat berdiri sendiri untuk menjadi terlihat. Waktu ada di setiap perputaran bumi, air laut yang surut dan naik, daun yang menguning dan gugur, dan tangisan bayi yang memecah fajar.

Waktu berbeda dan relatif bagi setiap orang. Pun memberikan dampak yang berbeda bagi proses kehidupan para manusia. Mengapa momen bahagia terasa singkat dan semua yang menyedihkan rasanya menggelayuti dan tidak segera berlalu? Rupanya itu karena manusia memiliki persepsi yang berbeda terhadap waktu. Pengalaman, kebiasaan, dan harapan (ekspektasi) menjadi faktor mengapa waktu terasa berbeda untuk setiap manusia (FK Fikri, 2008).

Juga, bagi seseorang seperti diriku. Aku dengan yakin menyatakan aku berubah. Atau, waktu mengubahku?

Sepanjang 21 tahun usiaku, mungkin tidak seberapa perubahan-perubahan yang terjadi pada diriku. Aku masih alfina yang kekanakan, ceroboh, sensitif, dan sarkastik. Namun, tidak dapat kuelakkan aku merasakan aku berbeda.

Aku yang keras kepala dan idealis menurutku sudah tidak berada dalam taraf ekstrimnya. Aku merasa bisa memahami pemikiran realistis yang dikatakan orang-orang. Memahami bahwa tidak selamanya prinsip hidup yang kita pegang mutlak diwujudkan. Karena dunia tidak selurus itu, bung. Kita tidak bisa memaksakan apa yang menurut kita baik untuk dijalankan seriap orang– meskipun itu memang baik. Setiap orang memiliki pilihan. Mereka berhak mengusahakan pemikirannya dan menata hidup mereka.

Alfina yang selalu let it flow juga mendapatkan titik baliknya. Aku yang tidak terbiasa merencanakan, aku yang suka berharap dan terlalu optimis menantikan kejutan-kejutan kecil dalam hidup, aku yangtidak memiliki RKJP (rencana kehidupan jangka panjang, wkwks), secara perlahan berubah.

Aku bersyukur mendapatkan kesempatan untuk merasakan bahwa hidup itu nggak bisa selalu dibiarkan mengalir. Hidup itu perlu diatur, ditempatkan, dibagi, dipilah-pilah, sehingga tidak ada penyesalan yang muncul karena kita sudah mengusahakan sesuai yang kita bisa.

Aku berubah. Orang-orang di sekitarku berubah. Ditemani waktu yang terus melangkah. Fakta bahwa aku berubah bukan hanya karena aku sendiri yang mengusahakan untuk berubah. Itu semua ditemani oleh Sang Waktu dan peristiwa yang terjadi, juga orang-orang yang ada di dalamnya.

Berubah atau ter-ubah, itu semua adalah pilihan kita. Yang muncul dari kesadaran diri kita sendiri, ataupun karena peristiwa yang bersinggungan dengan orang lain dalam hidup kita. Namun, peristiwa hidup, perbuatan dan perkataan orang lain apalah artinya jika kita sendiri tidak mau mengambil langkah, memutuskan untuk berubah.


Semangattt! 💙

Terima kasih untuk Pencipta Seisi Dunia dan semua makhluk-Nya yang berjasa.

Alfina @PUP, Bekasi.