Manusia Paling Tahu

Hai. Lama banget gue nggak nulis. Sedih rasanya. Padahal kalau dipikir-pikir gue nggak ngapa-ngapain. Emang gue ngapain aja, coba..?

Dan draf ini entah sejak kapan terabaikan. Adalah kebiasaan gue buat kepikiran sesuatu dan nulis judul duluan, sampai akhirnya kehilangan mood dan ide tentang apa yang mau gue tulis sebelumnya.

Jadi, di sini gue mencoba menebak-nebak apa yang dulu mau gue tulis. Manusia Paling Tahu. Gue rasa tulisan ini tentang gue yang mengasihani diri gue sendiri yang terhalang oleh pikiran gue. Tentang ke-sok tahu-an gue soal masa depan. Tentang kekhawatiran dan ketakutan gue sehingga gue memilih untuk lebih percaya sama pikiran gue sendiri. Percaya kalau orang lain itu menakutkan, percaya kalau gue malu-maluin, percaya kalau gue buruk di mata orang lain.

Ketika manusia lain berubah, gue merasa gue adalah orang yang sama seperti gue di usia 6 tahun, setidaknya dalam satu hal yang gue tau, mindset. Kalaupun gue berubah, pasti menjadi lebih buruk: lebih cuek, lebih apatis, sangat nggak peka, dan tambah egois.

Gue nggak ke mana-mana karena pikiran gue sendiri. Gue lari dan sembunyi dari realita. Gue takut dengan masa depan. Membuat gue cuma hidup dalam pikiran gue. Gue tanpa sadar memenjarakan diri gue sendiri. Oke, jadi selain egois gue memang pengecut.

Pertanyaannya adalah apa yang membuat gue seperti ini?

Iya, selain diri gue sendiri tentunya– boleh dibilang itu adalah ketidaktahuan. Manusia nggak tau apapun soal masa depan. Dan ketika gue sok tahu, ngerasa keyakinan yang ternyata adalah ketakutan gue itu bener, gue menutup diri dari fakta-fakta yang sebenernya terjadi. Entah itu yang membahagiakan, bikin sedih, malu-maluin, bikin marah dan kecewa, sayangnya fakta tetaplah fakta.

Sepanjang gue nulis ini, gue jadi sadar kalau kesalahan gue adalah…gue diam. Gue nggak ngapa-ngapain saat hati gue nyuruh gue beli dagangan kakek-kakek di pinggir jalan, gue memilih pura-pura nggak tau saat hati gue bilang buat sedikit memberi ke ibu-ibu yang sedang istirahat di trotoar sambil menggendong anaknya, gue yang pingin bantuin ibu-ibu di kantor yang tangannya penuh karena membawa banyak barang tapi nggak pernah gue lakuin ( damn, parah banget gue :”(( ). Gue rasa itu yang membuat gue tambah apatis.

Sama halnya saat gue punya pendapat untuk dikatakan, punya pertanyaan yang butuh disampaikan, punya keraguan untuk ditenteramkan. Gue cuma diam. Gue cuma mendengarkan suara dari kepala gue, yang nggak jarang berusaha gue bisukan. Lalu sudah, berlalu begitu saja.

Gue menolak geliat hati gue dengan pemikiran yang nggak berdasar. Ketakutan yang entah apa itu sebenarnya. Rasanya semua isi pikiran gue adalah hal buruk. Buruk, tapi gue turutin. Hampir semua yang buruk gue turuti dan gue percaya. Sampai gue jadi bingung, yang sebenernya gue itu yang mana. Hati gue atau pikiran gue. Niat gue yang menguap gitu aja atau tindakan yang nggak pernah ada.

Gue seakan cuma menghitung waktu. Menanti ketidakpastian. Memiliki banyak harapan sekaligus takut untuk melihat apa yang akan terjadi di masa depan. Gue bertambah usia, namun tetap nggak tau apa-apa. Kosong.

Gue tanpa sadar membentuk kebahagiaan semu, kenyamanan yang sementara, tanpa mencoba menyelesaikan sumber masalahnya. Hanya karena takut…menerima konsekuensi? Sial, itu makin memperjelas kalau gue pengecut.

Jujur gue belum tau gimana. Gue sekarang bisa mikir begini, tapi entah nanti saat gue berada di perdebatan antara hati dan pikiran apa yang akan gue lakukan. Semoga aja gue bisa mengambil kontrol atas diri gue sendiri. Bisa hidup sesuai keinginan gue sendiri, bukan berlandaskan rasa takut.

Pada kenyataannya, nggak ada manusia yang paling tau. Yang ada, mereka akan bertambah tau sepanjang hidupnya. Jadi, tolong, aku, janganlah keras kepala. Jangan merasa kamu adalah manusia paling tau tentang pikiran orang lain, tentang masa depan. Atau hidupmu nggak akan pernah sepenuhnya menjadi milikmu. Atau kamu hanya akan hidup di penjara eksklusif buatanmu.

 


Jakarta, 10 September 2020.

Alfina.

Berubah atau Ter-ubah

Siapa yang tidak sepakat dengan pernyataan kalau manusia senantiasa mengalami perubahan?

Dan ketika membahas mengenai perubahan, yang ikut menyertainya adalah waktu. Atau bisa dikatakan adanya perubahan adalah karena waktu yang terus bergerak– namun juga tidak selalu seperti itu.

Waktu tidak dapat berdiri sendiri untuk menjadi terlihat. Waktu ada di setiap perputaran bumi, air laut yang surut dan naik, daun yang menguning dan gugur, dan tangisan bayi yang memecah fajar.

Waktu berbeda dan relatif bagi setiap orang. Pun memberikan dampak yang berbeda bagi proses kehidupan para manusia. Mengapa momen bahagia terasa singkat dan semua yang menyedihkan rasanya menggelayuti dan tidak segera berlalu? Rupanya itu karena manusia memiliki persepsi yang berbeda terhadap waktu. Pengalaman, kebiasaan, dan harapan (ekspektasi) menjadi faktor mengapa waktu terasa berbeda untuk setiap manusia (FK Fikri, 2008).

Juga, bagi seseorang seperti diriku. Aku dengan yakin menyatakan aku berubah. Atau, waktu mengubahku?

Sepanjang 21 tahun usiaku, mungkin tidak seberapa perubahan-perubahan yang terjadi pada diriku. Aku masih alfina yang kekanakan, ceroboh, sensitif, dan sarkastik. Namun, tidak dapat kuelakkan aku merasakan aku berbeda.

Aku yang keras kepala dan idealis menurutku sudah tidak berada dalam taraf ekstrimnya. Aku merasa bisa memahami pemikiran realistis yang dikatakan orang-orang. Memahami bahwa tidak selamanya prinsip hidup yang kita pegang mutlak diwujudkan. Karena dunia tidak selurus itu, bung. Kita tidak bisa memaksakan apa yang menurut kita baik untuk dijalankan seriap orang– meskipun itu memang baik. Setiap orang memiliki pilihan. Mereka berhak mengusahakan pemikirannya dan menata hidup mereka.

Alfina yang selalu let it flow juga mendapatkan titik baliknya. Aku yang tidak terbiasa merencanakan, aku yang suka berharap dan terlalu optimis menantikan kejutan-kejutan kecil dalam hidup, aku yangtidak memiliki RKJP (rencana kehidupan jangka panjang, wkwks), secara perlahan berubah.

Aku bersyukur mendapatkan kesempatan untuk merasakan bahwa hidup itu nggak bisa selalu dibiarkan mengalir. Hidup itu perlu diatur, ditempatkan, dibagi, dipilah-pilah, sehingga tidak ada penyesalan yang muncul karena kita sudah mengusahakan sesuai yang kita bisa.

Aku berubah. Orang-orang di sekitarku berubah. Ditemani waktu yang terus melangkah. Fakta bahwa aku berubah bukan hanya karena aku sendiri yang mengusahakan untuk berubah. Itu semua ditemani oleh Sang Waktu dan peristiwa yang terjadi, juga orang-orang yang ada di dalamnya.

Berubah atau ter-ubah, itu semua adalah pilihan kita. Yang muncul dari kesadaran diri kita sendiri, ataupun karena peristiwa yang bersinggungan dengan orang lain dalam hidup kita. Namun, peristiwa hidup, perbuatan dan perkataan orang lain apalah artinya jika kita sendiri tidak mau mengambil langkah, memutuskan untuk berubah.


Semangattt! 💙

Terima kasih untuk Pencipta Seisi Dunia dan semua makhluk-Nya yang berjasa.

Alfina @PUP, Bekasi.

 

Semua Butuh Waktu

2019.
Post pertama gue di tahun ini.

Jadi gue nulis ini tanpa motivasi emosional apapun, melainkan cuma karena udah bulan Maret tapi blog ini nggak ada update tulisan sama sekali. Haha.

Menuhin target ceritanya.

Oke, enaknya nulis apa ya..


 

Gue tau di umur sekarang seharusnya gue udah punya pola pikir yang dewasa. Semacam logis, realistis, rela berkorban, cepat mengambil keputusan, dan kawan-kawannya.

Tapi setiap orang punya masanya masing-masing. Tumbuh dewasa itu bukan suatu hal yang seragam bagi tiap orang. Misalkan di usia 23 tahun kita, semua manusia, akan bertingkah laku seperti yang telah diprogram Sang Pencipta. Bukan. Pertumbuhan dan perkembangan mental nggak sama seperti pertumbuhan dan perkembangan secara physically. Bahkan pertumbuhan fisik, yang dulu kita pelajari zaman SD, yang bertahap-tahap pun ada peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar ”aturan” itu.

Gue sama sekali nggak tau apakah gue dewasa apa enggak. Tapi, kalau harus berpendapat sih, gue akan bilang gue masih sangat bocah. Self-centered, usil, sarkas, sok tau, berisik, suka protes, dsb. Itu ciri-ciri tingkah anak-anak kan, ya?

Gue tau kita sama sekali nggak bisa ngebandingin manusia satu sama lain. Kita semua beda, nggak ada satupun variabel yang bisa dipersamakan. (Eh, ada, deng. Sama-sama makhluk ciptaan. Inferior.) Tapi kalau buat introspeksi diri, gue rasa ngebanding-bandingin itu dibutuhkan.

Kita sama-sama hidup di dunia ini nggak tau apapun. Buta arah. Ada sih kitab, tapi buat memahaminya itu susah banget. Apalagi manusia itu banyak protes, terutama gue. Jadi begitulah, nggak papa belajar dari kisah hidup, pemikiran, dan keputusan-keputusan orang lain, buat pembelajaran diri sendiri. Asal kagak kebanyakan sampai bikin down yak. (Ngaca uy!)

Akhir-akhir ini yang ada di pikiran gue adalah, hidup mau ngapain? Keknya dari dulu mikir soal itu, sih. Tapi baru kali ini gue menemukan pemikiran yang baru. Yang lumayan positif menurut gue. Jarang-jarang gue mikir positif soalnya. Wkwkwk.

Pertama, gue bersyukur, gue masih hidup dan ternyata tiap hari apa yang terjadi itu beragam. Hidup itu penuh ”kejutan”. Bukankah begitu? Gue beberapa tahun, atau beberapa bulan yang lalu nggak mikir sama sekali kalau apa yang terjadi masa kini bakal terjadi, nggak mikir kalau pemikiran gue bisa berubah sedemikian rupa. Karena itulah gue percaya kata-kata: You’ll never know until it happens to you. Soalnya, dengan mengalami langsung, percaya deh pandangan lu akan suatu kondisi bakal berubah. Yang awalnya menggampangkan dan sok menasihati, bakalan kicep deh jadinya kalau ngalamin sendiri.

Gue, baru udah 20 tahun. (Udah bisa disebut tua belum sih?) Tapi gue udah ngerasa capek sama pemikiran gue sendiri. Pemikiran yang berisik dan sering mempertanyakan alasan di balik banyak hal. Salah satunya soal hidup. Yang semuanya berujung jalan buntu, nggak nemu jawaban. Gue harus puas sama asumsi-asumsi. Gue berusaha berdamai saat muncul suatu kesadaran bahwa nggak harus kita tau semuanya sekarang. The reasons, the meanings. Semuanya berproses. Perlahan-lahan, sesuai dengan ”matematika” Tuhan. Kita nggak bisa protes dan mempertanyakan kehidupan manusia pun soal keadaan dunia. Gue masih 20 tahun bro, nggak ada apa-apanya dah, pengalaman hidup bisa dibilang hampir nol. Ngomong aja belum lancar. Dengan kondisi macam gitu, masa iya gue dengan songongnya mempertanyakan rahasia alam? Haha.

Di umur dengan angka segitu, gue tersadar bahwa jalan hidup gue masih panjang (kalau diizinkan), beragam ups and downs masih banyak yang bakal berdatangan, pakai banget! Meskipun gue nggak pengen jadi tua, pengennya macem bocah terus, gue sadar dengan bertambahnya masa yang kita lalui, makin tambah juga pemahaman kita, lebih luas, lebih dalam, dan lebih dewasa.

Jadi, calm down, Pin. Keep your curiosity alive. Tapi jangan terlalu mengambil alih sampai-sampai lu berlagak macam yang paling bener di dunia ini melebihi your Lord.


Dan, congratulations, Pin.
Ini jadi post pertamamu yang dilingkupi oleh positive vibes :’)

 
Bintaro, 6 Maret 2019.
Pegawai yang merangkap sebagai pemimpi.

Karma atau Drama?

Hei, gue di sini. Pengen ngerambling nggak jelas yang lagi-lagi soal kehidupan.

Kalau lu perhatiin, setiap manusia itu berubah, ritme kehidupan di bumi juga berubah. Yang sering nggak disadari adalah perubahan pada diri sendiri.

Gue selalu ngerasa kalau gue nggak kenal sama diri gue sendiri, entah berapa kali pun gue mikir dan merenung soal jati diri gue (agak geli bahasanya :3). Tapi anehnya, di saat gue memikirkan hal-hal yang berbeda, gue bisa sadar. Gue bisa inget dan tau kalau dulu gue nggak bernah berpikiran seperti itu sebelumnya.

Di dalam hidup gue, udah biasa yang namanya gue nangis. Itu seperti sebuah siklus. Bahkan kalau lama nggak nangis, padahal dada udah sesak banget, gue pasti nyeletuk “Lama nggak nangis ya, kapan deh terakhir kali nangis?”. Aneh nggak menurut lu?
Dan gue rasa, makin ke sini, siklus itu udah makin nggak bener. Momen nangis itu datangnya jadi lebih cepet, dan episode feeling down yang gue rasain makin ke sini makin lama ilangnya. Gue berusaha nyari tau apa yang salah. Tapi belum nemu sampai sekarang, termasuk apa yang harus gue lakuin.

Gue ngerasa sering kemakan karma. Sebenernya gue nggak tau pasti apa makna dari karma itu sendiri. Sering denger kata itu dari orang-orang zaman sekarang yang seneng main umpat di medsos (hilih, kek bukan dari zaman sekarang aja lu nut).
Gue ngerasa apa yang gue alamin akhir-akhir ini adalah salah satu karma yang gue terima. Nggak tanpa alasan gue bisa menyimpulkan begitu. Soalnya sebelum-sebelumnya juga pernah terjadi ‘karma’ itu.

Pernah suatu waktu gue mikir dalam hati soal orang. Kurang lebih “Eh, tuh orang kok kalau senyum gusinya sampai keliatan gitu ya?”, dan entah sejak kapan gue kalau ketawa jadi lebar banget samapai gusi gue keliatan, padahal jauh yang bisa gue inget, gue sebelumnya kalau ketawa sempit banget (apa sebelumnya emang gue yang ga bahagia wkwkwk). Lalu ada lagi, sejenis sama yang sebelumnya, dan lagi-lagi gue mengalami apa yang kubilang dalam hati tadi.

Yang paling barusan dan yang paling serem adalah soal cinta beda agama. Sebelum gue ngerasain gimana sensasinya suka sama orang yang agamanya beda sama gue, pandangan gue soal hubungan beda agama tuh begini: “Kenapa harus beda agama? Kan banyak yang seagama. Kok bisa ya mereka memutuskan menjalani hubungan beda agama? Kan susah.”, yah pemikiran-pemikiran macam gitu lah. Naif dan bodoh banget kan gue? wkwk. Entah kenapa gue sebelumnya nggak nyadar kalau hubungan beda agama ya sama kayak hubungan antara dua manusia seperti biasanya. Nggak ada bedanya. Suka ya suka, lu nggak bisa milih mau suka ke siapa. Kalau bisa milih mah udah damai dunia ini kali wkwk. Gue sendiri heran dan bener-bener baru paham waktu ngerasain sendiri meskipun gue ngerasa gue orangnya open-minded soal semua hal wkwk.

Gue anggap itu karma, karena ya gue serasa ditampar langsung dengan hal-hal yang sebelumnya gue omongin secara sok tau dalam hati. Gara-gara itu semua gue yang orangnya sok tau, langsung memegang kata-kata: “You’ll never understand until it happens to you.”

Dan selanjutnya, ‘karma’ yang paling menyedihkan bagi gue. Gue kenal seseorang yang punya penyakit. Bukan fisik, tapi non fisik atau mental. Dulu, dulu banget gue bilang, lagi-lagi pemikiran dalam hati gue, “Apa efeknya obat, bukannya malah menyakiti diri dengan menimbun bahan kimia sebanyak itu di tubuh? Kan bukan sakit fisik, harusnya bisa disembuhin dari diri sendiri. Bener kalau semuanya lewat pikiran. Jadi, apa susahnya sih buat nggak mikir kek gitu? Apa susahnya buat mengalihkan dari pikiran-pikiran buruk yang jadiin diri sendiri sakit? Kan nggak enak sakit begitu, gara-gara pikiran sendiri”. Begitulah pemikiran gue saat itu, kira-kira saat gue SMP. Masih bisa gue inget betapa gemesnya gue ngelihat dia kesakitan dan mengeluh, betapa nggak pahamnya gue saat itu.

Tuhan menamparku lagi lewat ‘karma’. Gue ngerasain semuanya, kurang lebih apa yang dia rasain. Gue sadar betapa bodoh dan nggak berhaknya diri gue buat ngomong semacam itu meskipun cuma dalam hati. Sekarang gue ngerasain betapa nggak terimanya gue sama diri gue sendiri. gue yang sadar kalau pemikiran-pemikiran buruk di kepala gue salah, tapi gue tetep aja melakukan hal salah itu. Perasaan itu sebenernya udah sering gue alamin, dan bahkan udah gue anggep sebagai karakter gue saking emang begitulah yang selalu gue lakuin. Baru sekarang gue sadar dan inget soal apa yang dulu gue pikirin soal mengendalikan pikiran. Gue yang dulu anggap itu hal yang gampang, dan dengan seenaknya menggerutu dalam hati tentang kenapa dia nggak mengubah pikirannya ke arah hal-hal positif. Gue sekarang paham, dia pun pasti nggak mau merasakan semua itu, perasaan bersalah dan pertentangan dengan dirinya sendiri. Gue paham, dia juga pasti ingin berubah. Nggak ada orang yang mau pikirannya penuh dihantui dengan pemikiran-pemikiran yang nggak lu inginkan.

Gue seneng, makin ke sini makin banyak yang mengungkap soal mental health. Makin banyak yang aware soal hal yang nggak nampak dengan sekali lihat ini. Gue berharap sama diri gue sendiri juga buat lebih peduli sama sekitar dan nggak self-centered. Tiap orang butuh perlakuan yang berbeda-beda. Tapi mungkin karena itu gue malah takut salah langkah saat pengen menunjukkan kalau gue ada buat kalian.

Menurut gue itulah beberapa ‘karma’ yang pernah gue alamin. Mungkin bagi sebagian atau banyak orang tingkah gue over dan banyak drama. Gue yang sering tiba-tiba teriak lah, reaksi berlebihan lah, suara ketawa yang kenceng lah. Gue sadar itu. Gue juga kadang mikir kenapa gue bertingkah seperti itu.

Lalu akhir-akhir ini gue juga ngerasa makin aneh. Gue emang orang yang khawatiran, overthinking dan perfeksionis. Sebenernya geli juga nyebut gue perfeksionis di saat gue juga punya sifat procrastinate. Tapi akhir-akhir ini gue merasa ada yang salah sama pikiran gue. Rasa khawatir gue makin bertambah dan gue juga takut tanpa tau apa yang gue takutin. Gue yang dari dulu emang sering mikir jelek ke diri sendiri semakin parah akhir-akhir ini. Jujur gue nggak suka gue yang begini, gue juga nggak suka gue yang menarik diri dari orang-orang, gue yang lelah untuk melakukan hal-hal yang gue senangi, gue yang menganggap semuanya nggak tau apa-apa soal gue dan nggak mau mereka ikut terlibat di dalam masalah gue. Maaf kalau gue aneh dan sangat sulit dipahami.

Sebenernya nggak tau ini keputusan salah atau bener buat nulis ini semua di blog, tapi gue pengen menuangkannya biar nggak terus-terusan mendekam di kepala gue aja.

Terima kasih.


Gue ngedengerin itu waktu nulis ini.
Such a calm melody to my clamorous mind.

Hoping you having a good day 🙂
Alfina

My Negative Mind (1)

Lama gue nggak nulis. Belakangan ini baru kepikiran: “Eh, lama nggak nulis, nih. Nulis kuy, rindu”.

Barusan aja gue pengen nge-post puisi. Soalnya pikiran gue lagi ribut dan random banget. Mood-nya pengen melampiaskan lewat puisi. Tapi gue berubah pikiran.

Itu karena waktu gue lihat di draft, rupanya ada dua tulisan pending. Gue terbahak waktu baca judulnya. Payah.

Kalian tau apa? Yang pertama itu “Bukan Masalah!” (Iya pakai tanda seru!) dan satunya adalah “Menghidupi Hidup”. Gue yakin 101% gue nggak bakalan ngelanjutin tuh tulisan. Selain karena gue nggak mood, gue juga udah kehilangan ‘latar belakang’ buat nulis tulisan itu.

Setiap gue nulis, pasti itu karena keresahan. Juga sebagai upaya buat menyemangati diri, meluruskan alur berpikir, dan berusaha mencari yang positif di antara peristiwa-peristiwa yang nampak buruk.

Kalau kalian perhatiin, tulisan gue selalu penuh dengan aura negatif. Selalu saja dikelilingi dengan negative vibes. Bisa dilihat dari judul-judul yang datar dan misterius ala-ala semacam Pemikiran Tengah Malam, Episode Kehidupan, juga Rasionalitas yang semuanya intinya soal keresahan gue, ditambah pemikiran-pemikiran negatif-sarkastik yang sangat menggurui dan sok dewasa.

Kenapa gue ketawa? Lebih tepatnya menertawai diri sendiri? Itu karena 2 judul tadi sangat-sangat membawa aura positif nan cerah XD Yang dalam hati aku mafhum kenapa tulisan itu nggak kelar, karena pasti sedetik ketika aku kepikiran judul dan mulai menulis, pikiranku langsung teralihkan dengan hal lain. Sesuatu yang kelam, sedih, dan penuh pertentangan.

Udah pernah gue bilang di salah satu tulisan gue kalau gue adalah orang yang optimis sekaligus pesimis.

Berpikiran optimis akan masa depan yang misterius, tapi juga setiap harinya berpikiran jelek soal dunia, kehidupan, dan terutama manusia, termasuk diri sendiri.

Gue bener-bener gemes sama diri sendiri. Kenapa nggak tanggung jawab buat ngelarin tulisan yang udah gue mulai sendiri. Tapi mau gimana lagi, gue bener-bener nggak bisa inget kenapa gue bisa nulis macam gitu di awal. Apa yang gue pikirin dan gue rasain saat itu, gue nggak inget.

Jadi, biarlah tulisan itu tetap menjadi draft ya?

 

 

 

 


Nggak tau ini gue nulis apaan.

Biar jadi bahan ketawaan di masa depan waktu gue baca ulang.

Bye.

Episode Kehidupan

Umur gue 19 tahun, plus plus. Dalam hitungan bulan bakalan mencapai angka 20. Setelah gue pikir-pikir, 20 tahun itu sebuah pencapaian bro, angka yang fantastis bagi kedua orang tua kita yang telah merawat dan mendidik dengan sepenuh hati.

Dalam 20 tahun, banyak hal terjadi. Meskipun gue yakin ga sebanyak temen-temen yang seusia sama gue (Gue emang kalah kalau masalah pengalaman :3).
Dari gue kecil yang susah banget buat disuruh makan, sampai gue yang selalu gercep dan tandas kalau soal makanan. Dari gue yang sering main ke rumah orang, ngacak-acak sampai sudut terdalam–sering minta makan juga, btw–sampai gue yang ngerasa canggung dan heran kenapa hal itu pernah gue lakukan. Banyak hal absurd yang nggak lo sangka-sangka bakal terjadi di hidup lo, tapi faktanya bener-bener kejadian. Sesuatu yang disebut perubahan.

Beberapa minggu yang lalu gue berkesempatan buat main ke gua lagi, gua ketiga dalam hidup gue (selain gua wisata yak :3 sebenernya pun gua wisata baru 2 gua dah keknya). Dulu, satu-dua tahun yang lalu nggak ada gue kepikiran bakal ngalamin yang namanya masuk ke gua vertikal. Seriusan. Boro-boro, baru tau kalau gua itu ada yang vertikal aja beberapa bulan yang lalu-_-

Lalu, satu hal yang sepele tapi nggak gue sangka-sangka, gue dulu selama SD, SMP, SMA, sampai tingkat 1 di perkuliahan nggak pernah ngelakuin apa yang namanya tidur di kelas pas guru lagi menjelaskan. Tapi, entah apa pemicunya, sejak kapan dimulai, gue tidur di kelas bro! (juga udah 2x skip kelas!) Itu bener-bener pencapaian. Ortu gue bakalan kaget parah kalau tau soal ini. Seorang Alfin, secara good girl-nya mereka. Meskipun gue sadar, gue nggak bisa menjelaskan kenapa perubahan-perubahan ini terjadi, pun berusaha kembali menjadi Alfin yang dulu lagi. Tapi gue tau satu hal, bibit-bibit pemberontak memang ada di diri gue. Gue tau pasti soal itu. Satu asumsi gue, kenapa gue memilih tidur di kelas di saat-saat tertentu, karena gue udah tau gimana asiknya main. Gaya belajar gue emang kinestetik, gue gampang bosen, dan hiperaktif. Jadi ketika ada hal yang bikin gue bosen, gue ngerasa hal itu ga menarik, gue lebih milih tidur. Semacam tubuh yang udah dikasih antibiotik 60%, kalau ada virus lagi yang nyerang, antibiotik 40% ga bakal bisa ngelawan virus itu. Nggak bakal mempan.
Tapi satu hal, gue suka belajar kok, tapi dengan cara gue sendiri.

Gue ulangin lagi, banyak hal yang terjadi. Entah dalam durasi singkat ataupun lama, perubahan pasti bermunculan. Itu bukan suatu kesalahan. Itu adalah salah satu rangkaian episode kehidupan.

Setiap episode, tiap-tiap kisah, pasti ada latar belakangnya, ada histori tersendiri, ada makna yang menyertai. Entah sejak kapan, tapi gue suka buat memahami setiap episode itu, mencari-cari makna di baliknya.

Seperti saat gue dihadapkan pilihan antara hasil SBMPTN atau hasil USM PKN STAN, kebimbangan yang gue hadapi membuat gue merenungi apa kiranya makna dibalik semua ini. Kenapa gue disuruh milih antara 2 hal itu. Dan saat itu yang gue temuin adalah mungkin gue lagi dilatih buat nggak egois dan lebih dewasa. Lalu saat pilihan telah ditetapkan, dan suatu akibat datang menyertai, makin tampak lah apa hikmah dibalik itu semua.

Baru-baru ini gue sampai di satu lagi episode kehidupan gue yang bener-bener asing. Yang bikin gue bingung harus ambil sikap bagaimana. Yang susah banget buat nemuin apa kira-kira makna di baliknya dibanding hal-hal yang gue alamin sebelumnya. Yang bikin gue yang biasanya selalu berpikir positif akan masa depan, dengan moto gue ”Tidak ada yang tidak mungkin.” jadi mikir kalau itu nggak relevan lagi dan membuat gue berpikir ulang.

Gue nggak berani blak-blak an soal apa itu yang lagi gue omongin, tapi akhirnya setelah berhari-hari gue berhasil nemuin maknanya, yang bener-bener nampar banget. Intinya episode kali ini mengubah pandangan gue soal suatu hal. Dari gue yang sebelumnya cenderung nge-judge dan punya pemikiran ”Ih, kok bisa ya. Kan bisa milih buat nggak kayak gitu.”, jadi punya pemikiran lain yang 180° dari sebelumnya setelah gue bener-bener berada di posisi itu, sebagai lakon utamanya.

Sama seperti kejutan-kejutan yang lainnya, episode satu ini datang dengan tiba-tiba. Gue nggak pernah ada pikiran sedikitpun hal ini bakal terjadi di hidup gue. Bener-bener nggak sama sekali. Tapi setelah gue pikir-pikir, gue coba runut alurnya kenapa gue bisa sampai di titik ini, gue sadar sebenernya episode kali ini nggak semengejutkan itu. Ini bukanlah suatu hal yang tiba-tiba. Dia melewati proses dulu, yang bener-bener smooth tanpa gue sadari. Dan ketika dia dekat, tau tau aja gue udah terjebak di dalamnya.

Sampai saat ini, meskipun gue udah tau satu hikmahnya, gue nggak tau keputusan apa yang harus gue ambil. It’s like I left it hanging. Atau kasarnya gue yang terlalu pengecut buat ngambil keputusan. Sepertinya gue tau jalan mana yang harus gue pilih, tapi sayangnya jalan satunya lebih menggiurkan buat manusia penuh dosa seperti gue ini terjerumus. Gue tau, sepertinya Tuhan sedang rindu gue. Dia iri karena gue mangkir dari tugas gue sebagai manusia, makhluk-Nya. Memanglah gue yang sekarang telah terdegradasi dari gue yang dulu.

Dengan nulis ini, gue makin paham mana yang bener mana yang keliru. Mana yang hitam, mana yang putih. Gue sadar kalau suatu kesalahan bila gue yang sebenernya tau bertingkah seakan-akan gue nggak tau apa-apa. Ini seakan gue dipanggil-panggil dan gue denger tapi pura-pura nggak tau dan nggak mau tau soal si pemanggil itu. Serius, gue jahat banget kalau gitu.

Oke. Bismillah, gue akan mulai melangkah. Menjauhi zona abu-abu yang gue ciptakan sendiri, menuju arah suara Sang Pemanggil itu.

Ya, sepertinya ini kesempatan untukku. Yang telah diberikan oleh-Nya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Pesan untuk Alfin di masa depan: Jangan lalai, sayangku.

Jumat, 1 Juni 2018.
03.33
1195