Puisi #3

Kenapa manusia mendambakan validasi?

Mencari dukungan di kanan kiri,

Menampilkan diri yang dipoles mumpuni

Berkualitas tinggi, tidak bercela, lagi terpuji

 

Dalam hati merintih ingin ditemani

Mau dipercaya juga dipahami

Mendengarkan mimpimu dengan antusias tinggi

Tersenyum bersamamu dan tidak saling memunggungi

Keluh kesahmu didengarkan dengan sepenuh hati

Kamu genggam erat semuanya agar tidak pergi

Apa daya, tidak bisa dipungkiri

Akhirnya kita hanya berkawan dengan diri sendiri

 

 


10 Mei

Alf.

Sapiens

Apa rupanya yang dicari manusia

Hingga berlomba-lomba menuju ke sana

Apakah hidup yang bahagia

Kedamaian yang nyata

Atau sebatas merasai fana?

 

Manusia hempas di dunia

Berduyun-duyun linglung kerjapkan mata

Tatapan jernih, tulus, dan terluka

Yang berambisi, pasrah, dan hampa

Lantas, kemudian apa?

 

Aku dan kamu sungguh tiada meminta

Berparu-paru dan membutuhkan udara

Yang kuat dan sempurna tapi terbatas nyawa

Yang berakal dan berjiwa tapi semena-mena

 

Apakah kita yang terlena?

Menjadi lupa dan melenggang seenaknya

Apa itu lahir, hidup, dan tutup usia

Juga tentang aku, dia, dan mereka

 

Namun sesungguhnya kita punya peta

Yang tunjukkan arah ke mana kita bermuara

Tapi sekali lagi, lagi, dan lagi, kita melupa

Kembali merasa hebat dan berkuasa

Bak sutradara tunggal untuk kisah hidup kita

 

 

_____________________________________________

Aku ini, apa?

 

Hiduplah Manusia

Kita semua pengembara di kehidupan ini, sayang
Merangkak, terseok, dan terombang
Terbang jauh, lalu jatuh melayang
Penyesalan dan ketakutan tak habis membayang

Kertas kosong yang perlahan terlukiskan
Basah, lusuh, terkoyak tak terhindarkan
Kamu, aku, kita semua bertumbuh perlahan
Dalam 1001 cabang ukiran Tuhan

Jadi, kumohon jangan merasa sendiri
Maupun menutup diri karena takut tersakiti
Bahkan hingga berpikiran ingin mengakhiri

Juga, tolong jangan ikutkan serta diri ini
Remuk tersiksa terekam di hati
Hanya demi melihatmu menyalahkan nurani

Berhati-hati kuberanikan untuk berkata
Kita tercipta istimewa
Hijau, kuning, ungu, maupun jingga
Memang tiada yang sama
Karena semuanya
Yang akan mewarnaimu seutuhnya
Hingga kamu bisa disebut manusia

__________________________________________

Pernah ditulis di katakan.online
Oke, that’s me who’s posted it there.

Sesuatu untuk Kamu

Kuberi tau sesuatu, Nak

Dunia ini sudah renta

Cukup renta untuk turut serta mengurusi masalah remehmu jua

Sudah kenyanglah dia dengan itu semua

Baginya kamu bukan siapa-siapa

Awas, jangan kecewa

Sekali lagi kuingatkan kamu, Nak

Dunia ini terus berlari tanpa menunggumu serta

Dirimu ya dirimu, dirinya tidak mau tau suatu apa

Kamu bukan siapa-siapa, jangan sampai lupa, ya

Jadi, berlari lah juga, segera

Jangan pernah mengeluhkan lelahnya harimu kepadanya

Dengan dirimu sendiri kamu bisa

 


 

Eh, tapi bisa apa, ya?

Maksudku, apa bisa, ya?

Hehe.

06.06

24/10/2018

Di Persimpangan Jalan

Kemudiku terhenti malam ini

Tepat pukul satu dini hari

Di persimpangan jalan itu aku menepi

Kebingungan lalu berhenti,

Sebenarnya apa yang kucari-cari?

 

Jalanku remang jauh membentang

Di belakang telah tertinggal jauh menghilang

Di persimpangan jalan aku terhenti bimbang

Haruskah melaju atau memilih pulang

 

Di persimpangan jalan,

tiada kutemukan jawaban

Tapi kuberanikan untuk melaju perlahan

 

Kusebut Itu Tidak

Hei,

Sudah berapa lama sejak kita saling tahu?

Sebuah perkenalan untuk awal yang baru

Gema namaku dan namamu melayang di angkasa pagi itu

Tanpa tiada yang tahu, pun diriku, bila radarku telah menangkap frekuensi gemamu

 

Gurat-gurat pilihan tercipta

atas keputusan manusia-manusia

Adalah aku di antaranya

 

Ku langkahkan kakiku perlahan

Lamban penuh kehati-hatian,

Brutal tanpa pikir jauh ke depan

 

Jalur kita memang tengah bersisian

Dengan segala konsekuensi dan kemungkinan

Kau tentu tahu itu, kan?

Meskipun terkadang memang menyerbu tanpa peringatan

 

Hei,

sampai di mana kita kala ini?

Revolusi matahari terjadi tanpa kita sadari

Bulir jam pasir yang jatuh karena gravitasi

kurasa tidak akan bertahan lama lagi

Dan aku ketakutan atas fakta yang kulalui

 

Aku bahagia,

sangat ku berharap kau begitu pula

Momen-momen telah kita lalui bersama

Dengan tatap muka,

dari surya menyapa hingga pukul dua puluh dua hampir setiap harinya

 

Tertawa, bekerja, bercanda, sesekali belajar bersama

Terkesan normal untuk semua orang seusia kita

Tapi tidak untuk diriku rupanya

Yang tiada bisa bedakan apa itu rasa suka, dan hanya sekedar bahagia

 

Aku suka,

betapa interaksi kita berbeda

Kerap berjumpa jadikan kita hampir tak pernah bercakap di sosial media

Tak perlu merekam jejak percakapan kita di sana

Cukuplah tercatat di benak aku, kamu, juga mereka

 

Tapi kusebut itu tidak,

ketika setetes rindu menenggelamkan segalanya

Sepercik kesadaran malah menyesakkan dada

Dan aku ingin menjadikanmu milikku seorang saja

 

Ku sebut itu tidak,

ketika jarak nyata ada di antara kita,

membentang jauh dan melarangku tuk menemuimu di tempat biasa kita bercengkrama

Dan ketika perbedaan yang sedari awal telah tercipta,

menjadi garis putih yang kontras untuk dua warna

 

Kusebut itu tidak,

ketika ku ingin berlari ke arahmu

karena ingin tahu apa kiranya isi benakmu

Dan ketika semua tak lagi sama

saat pemikiran-pemikiran yang memuakkan mendera

 

Dan kusebut itu tidak,

saat kau riang berkelakar bersama denganku

Namun setelah kita tak lagi bertemu

kau hanya diam membisu

Seakan kau menepisku sebelum maju

 

Yah, mungkin hanya aku yang terlalu lugu atas asumsi semu

 

 

 

___________________________________

Tegal.

11:95

Pada Zaman Dahulu Kala

Aku adalah Sinderela,

yang harus pergi meninggalkan istana saat tengah malam menyapa

Aku adalah Sinderela,

yang setiap malamnya selalu penuh harap pagi kan datang segera, hingga datanglah kesempatan untuk berjumpa

Pagi-pagi sekali aku sudah siap sedia, menyambut takdirku untuk setetes momen berharga

Kecewa akan menerpa bila aku tak mampu temui sosokmu di sana

Manusia ramai datang, tersenyum gembira, namun tiada sedikitpun kau ada di antaranya

Aku membaur, tertawa dan bercanda, hanya untuk sembunyikan dalam-dalam bahwa pikiranku bekerja ganda

Sebagian melayang jauh entah kemana, sibuk menerka-terka

Sungguh ingin aku bertanya, tapi terlalu gentar akan dipandang sebelah mata

Aku adalah Sinderela,

yang untuk berbahagia cukup dengan menjalani waktu berdua bersama

Milky Way

Jika aku lupakanmu,
kuharap ini akan lesakkan bayangmu

Jika waktu berlalu dan ku terpaku akan sosok lain yang bukan kamu, sapalah aku dalam mimpiku

Pendar cahaya bersatu menjelma kamu yang aku mau

Kamu yang membutakan netra, membekukan logika, menghangatkan jiwa

Aku mengagumimu, sangat
Tanpa susah, tiada lelah
Tanpa perlu tahu sadar-igau kah diriku atas rupamu
Tanpa acuh fisik fiksimu
Tanpa enggan mendamba indahnya isi kepalamu

Kamu,
Diriku kosong hanya nantikanmu
Terpekur harapkan eksistensimu

Tapi apa peduliku,
Yang penting,
aku cinta kamu
Galaksi Bimasakti-ku

 

 

Arta.
22/07/2017
___________________________

Untuk Alle dan Kartika, izinkan aku menyimpan Galaksi kesayanganmu di sini. Lirihku seraya menyentuh tempat sesuatu yang berdegup kuat itu berada.

Dan untukmu Kak Julie, tokoh fiksi ciptaanmu berhasil menjatuhkan hatiku berkali-kali, yang kuharap tak akan berhenti.

 

P.s.

Ini gue tulis saat gue bener-bener jatuh cinta sama Galaksi Bimasakti, satu dari ratusan tokoh fiksi yang pernah gue temui.

Gue tulis biar gue ingat bahwa dulu gue begitu mencintainya.