Black Hole

Kamu tunjukkan padaku hatimu,
Terbuka luas untuk kuselami dengan bebas

Hangatnya enggan membuatku bergegas,
Kedamaian itu melingkupiku puas

Dirimu proyeksikan superhero favoritku,
Ketidaksempurnaanmu yang membuatku terbelenggu,
Dalam rengkuhmu lantang kuteriakkan ini rumah tinggalku,
Dan senyummu panorama terindah bagi mataku

Rasa manis datang menerpa,
Bukan hanya sapa namun hendak bermukim lama,
Sungguh ini rasa yang beda,
Sempat buatku terbata membacanya

Tiada yang lain hanya dirimu,
Poros revolusiku

 

—–
7.15 a.m
22/07/2017

Kenapa Pergi?

Jadi, kenapa pergi?
Bahkan sambil berlari
Apakah sesuatu yang jauh itu menarik hati?
Baiklah, aku sudah terbiasa sendiri

Konstelasi Rasa

Lalu, kenapa pergi?

Di saat hati sudah tak terkunci

Dan sunyi tak kupecah sendiri

Kenapa pergi?

Ketika ruang telah kutata rapih

Kau berlalu tanpa permisi

Meninggalkan kepulan harap

pada secangkir kopi

Yang kureguk tanpa basa-basi

Malam semakin malam

Sepi kian mendalam

Dan kepalaku terus menggumam

Kenapa pergi?

View original post

Puisi #2

Hati manusia sungguh rentan
Sedetik ku merasakan nyaman
Sehembusan angin kemudian, yang sisa hanya perasaan tertekan
Ucapan sayang hanya tipuan
Tak pernah ada jaminan, kalau-kalau nantinya kau takkan pergi berhamburan

Semuanya serba spontan
Bukan tentang siapa yang datang duluan,
Maupun dia yang menyerbu belakangan
Juga tak ada skala kepastian tentang siapa yang paling memupuk perasaan

Jadi, jika tiba saat kau tahu tentang kebenaran
Kumohon jangan sungkan,
Apalagi sampai kabur ketakutan
Aku toh hanya ingin berteman
Tapi tidak pernah bisa kujanjikan,
Bisa saja kau membuatku semakin tak ingin meninggalkan,
Hingga memungkiri takdir yang telah dituliskan
Sekian

 

 


Gue masih belum tau apa judul yang lebih baik untuk puisi ini.

Puisi #1

Kita berdua sering berbagi canda
Yang sangat candu bagi hatiku yang rentan jatuh cinta
Mana ada mau kuakui bahwa iya
Tapi rupanya aku telah terjerat lama
Satu kisah baru untukku yang alpa
Dimana aku hanya bisa meraba-raba
Menerka di mana kiranya ujung berada
Namun iyakah harus ada akhirnya
Bisa saja ini hanya tempat singgah semata
Tempat aku dan kamu ditakdirkan bersua
Lalu saling berpaling, pergi tanpa sempat ucapkan sampai jumpa

RINDU

Enam tahun yang lalu

Momen ku dan dirimu

Perjumpaan kita,

di latar sekolah menengah pertama

Jelas teringat,

dirimu yang bertandang

Tak kan ku lupa,

seseorang yang mempertemukan

 

Satuan, besaran, ukuran

Cairan, padatan, bukan ramuan

 

Sinkronisasi yang harus ku lakukan

Mengalkulasi pernyataan

Kisahku bersamamu,

perpaduan manis dan getir,

hangat dan nyaman,

damai dalam perang

 

Kini ku merindukanmu

Sangat ingin bertemu

Bila tak ada perang itu,

tak kan pernah bisa kucecap damaimu

 

Di sini ku merindu

Hanya bergelut dengan imajiku

 

Membayang

Melayang

Ingatan tentangmu

————-//————-//————-

Bukan puisi absurd pertamaku.

Tapi yah, dia mendapat kehormatan untuk diunggah pertama kali di blog ini.

Puisi lama yang menggantung, terbengkalai.

Gara-gara nyari suatu file eh malah nemu dia. Lanjutin dikit, post deh.

It’s all about my sickness and love-over-heels about Physics and everything sticks on it, including my struggle, my loving for my great teacher, my JHS and SHS moments.