Karma atau Drama?

Hei, gue di sini. Pengen ngerambling nggak jelas yang lagi-lagi soal kehidupan.

Kalau lu perhatiin, setiap manusia itu berubah, ritme kehidupan di bumi juga berubah. Yang sering nggak disadari adalah perubahan pada diri sendiri.

Gue selalu ngerasa kalau gue nggak kenal sama diri gue sendiri, entah berapa kali pun gue mikir dan merenung soal jati diri gue (agak geli bahasanya :3). Tapi anehnya, di saat gue memikirkan hal-hal yang berbeda, gue bisa sadar. Gue bisa inget dan tau kalau dulu gue nggak bernah berpikiran seperti itu sebelumnya.

Di dalam hidup gue, udah biasa yang namanya gue nangis. Itu seperti sebuah siklus. Bahkan kalau lama nggak nangis, padahal dada udah sesak banget, gue pasti nyeletuk “Lama nggak nangis ya, kapan deh terakhir kali nangis?”. Aneh nggak menurut lu?
Dan gue rasa, makin ke sini, siklus itu udah makin nggak bener. Momen nangis itu datangnya jadi lebih cepet, dan episode feeling down yang gue rasain makin ke sini makin lama ilangnya. Gue berusaha nyari tau apa yang salah. Tapi belum nemu sampai sekarang, termasuk apa yang harus gue lakuin.

Gue ngerasa sering kemakan karma. Sebenernya gue nggak tau pasti apa makna dari karma itu sendiri. Sering denger kata itu dari orang-orang zaman sekarang yang seneng main umpat di medsos (hilih, kek bukan dari zaman sekarang aja lu nut).
Gue ngerasa apa yang gue alamin akhir-akhir ini adalah salah satu karma yang gue terima. Nggak tanpa alasan gue bisa menyimpulkan begitu. Soalnya sebelum-sebelumnya juga pernah terjadi ‘karma’ itu.

Pernah suatu waktu gue mikir dalam hati soal orang. Kurang lebih “Eh, tuh orang kok kalau senyum gusinya sampai keliatan gitu ya?”, dan entah sejak kapan gue kalau ketawa jadi lebar banget samapai gusi gue keliatan, padahal jauh yang bisa gue inget, gue sebelumnya kalau ketawa sempit banget (apa sebelumnya emang gue yang ga bahagia wkwkwk). Lalu ada lagi, sejenis sama yang sebelumnya, dan lagi-lagi gue mengalami apa yang kubilang dalam hati tadi.

Yang paling barusan dan yang paling serem adalah soal cinta beda agama. Sebelum gue ngerasain gimana sensasinya suka sama orang yang agamanya beda sama gue, pandangan gue soal hubungan beda agama tuh begini: “Kenapa harus beda agama? Kan banyak yang seagama. Kok bisa ya mereka memutuskan menjalani hubungan beda agama? Kan susah.”, yah pemikiran-pemikiran macam gitu lah. Naif dan bodoh banget kan gue? wkwk. Entah kenapa gue sebelumnya nggak nyadar kalau hubungan beda agama ya sama kayak hubungan antara dua manusia seperti biasanya. Nggak ada bedanya. Suka ya suka, lu nggak bisa milih mau suka ke siapa. Kalau bisa milih mah udah damai dunia ini kali wkwk. Gue sendiri heran dan bener-bener baru paham waktu ngerasain sendiri meskipun gue ngerasa gue orangnya open-minded soal semua hal wkwk.

Gue anggap itu karma, karena ya gue serasa ditampar langsung dengan hal-hal yang sebelumnya gue omongin secara sok tau dalam hati. Gara-gara itu semua gue yang orangnya sok tau, langsung memegang kata-kata: “You’ll never understand until it happens to you.”

Dan selanjutnya, ‘karma’ yang paling menyedihkan bagi gue. Gue kenal seseorang yang punya penyakit. Bukan fisik, tapi non fisik atau mental. Dulu, dulu banget gue bilang, lagi-lagi pemikiran dalam hati gue, “Apa efeknya obat, bukannya malah menyakiti diri dengan menimbun bahan kimia sebanyak itu di tubuh? Kan bukan sakit fisik, harusnya bisa disembuhin dari diri sendiri. Bener kalau semuanya lewat pikiran. Jadi, apa susahnya sih buat nggak mikir kek gitu? Apa susahnya buat mengalihkan dari pikiran-pikiran buruk yang jadiin diri sendiri sakit? Kan nggak enak sakit begitu, gara-gara pikiran sendiri”. Begitulah pemikiran gue saat itu, kira-kira saat gue SMP. Masih bisa gue inget betapa gemesnya gue ngelihat dia kesakitan dan mengeluh, betapa nggak pahamnya gue saat itu.

Tuhan menamparku lagi lewat ‘karma’. Gue ngerasain semuanya, kurang lebih apa yang dia rasain. Gue sadar betapa bodoh dan nggak berhaknya diri gue buat ngomong semacam itu meskipun cuma dalam hati. Sekarang gue ngerasain betapa nggak terimanya gue sama diri gue sendiri. gue yang sadar kalau pemikiran-pemikiran buruk di kepala gue salah, tapi gue tetep aja melakukan hal salah itu. Perasaan itu sebenernya udah sering gue alamin, dan bahkan udah gue anggep sebagai karakter gue saking emang begitulah yang selalu gue lakuin. Baru sekarang gue sadar dan inget soal apa yang dulu gue pikirin soal mengendalikan pikiran. Gue yang dulu anggap itu hal yang gampang, dan dengan seenaknya menggerutu dalam hati tentang kenapa dia nggak mengubah pikirannya ke arah hal-hal positif. Gue sekarang paham, dia pun pasti nggak mau merasakan semua itu, perasaan bersalah dan pertentangan dengan dirinya sendiri. Gue paham, dia juga pasti ingin berubah. Nggak ada orang yang mau pikirannya penuh dihantui dengan pemikiran-pemikiran yang nggak lu inginkan.

Gue seneng, makin ke sini makin banyak yang mengungkap soal mental health. Makin banyak yang aware soal hal yang nggak nampak dengan sekali lihat ini. Gue berharap sama diri gue sendiri juga buat lebih peduli sama sekitar dan nggak self-centered. Tiap orang butuh perlakuan yang berbeda-beda. Tapi mungkin karena itu gue malah takut salah langkah saat pengen menunjukkan kalau gue ada buat kalian.

Menurut gue itulah beberapa ‘karma’ yang pernah gue alamin. Mungkin bagi sebagian atau banyak orang tingkah gue over dan banyak drama. Gue yang sering tiba-tiba teriak lah, reaksi berlebihan lah, suara ketawa yang kenceng lah. Gue sadar itu. Gue juga kadang mikir kenapa gue bertingkah seperti itu.

Lalu akhir-akhir ini gue juga ngerasa makin aneh. Gue emang orang yang khawatiran, overthinking dan perfeksionis. Sebenernya geli juga nyebut gue perfeksionis di saat gue juga punya sifat procrastinate. Tapi akhir-akhir ini gue merasa ada yang salah sama pikiran gue. Rasa khawatir gue makin bertambah dan gue juga takut tanpa tau apa yang gue takutin. Gue yang dari dulu emang sering mikir jelek ke diri sendiri semakin parah akhir-akhir ini. Jujur gue nggak suka gue yang begini, gue juga nggak suka gue yang menarik diri dari orang-orang, gue yang lelah untuk melakukan hal-hal yang gue senangi, gue yang menganggap semuanya nggak tau apa-apa soal gue dan nggak mau mereka ikut terlibat di dalam masalah gue. Maaf kalau gue aneh dan sangat sulit dipahami.

Sebenernya nggak tau ini keputusan salah atau bener buat nulis ini semua di blog, tapi gue pengen menuangkannya biar nggak terus-terusan mendekam di kepala gue aja.

Terima kasih.


Gue ngedengerin itu waktu nulis ini.
Such a calm melody to my clamorous mind.

Hoping you having a good day 🙂
Alfina

Sesuatu untuk Kamu

Kuberi tau sesuatu, Nak

Dunia ini sudah renta

Cukup renta untuk turut serta mengurusi masalah remehmu jua

Sudah kenyanglah dia dengan itu semua

Baginya kamu bukan siapa-siapa

Awas, jangan kecewa

Sekali lagi kuingatkan kamu, Nak

Dunia ini terus berlari tanpa menunggumu serta

Dirimu ya dirimu, dirinya tidak mau tau suatu apa

Kamu bukan siapa-siapa, jangan sampai lupa, ya

Jadi, berlari lah juga, segera

Jangan pernah mengeluhkan lelahnya harimu kepadanya

Dengan dirimu sendiri kamu bisa

 


 

Eh, tapi bisa apa, ya?

Maksudku, apa bisa, ya?

Hehe.

06.06

24/10/2018

Pada Zaman Dahulu Kala

Aku adalah Sinderela,

yang harus pergi meninggalkan istana saat tengah malam menyapa

Aku adalah Sinderela,

yang setiap malamnya selalu penuh harap pagi kan datang segera, hingga datanglah kesempatan untuk berjumpa

Pagi-pagi sekali aku sudah siap sedia, menyambut takdirku untuk setetes momen berharga

Kecewa akan menerpa bila aku tak mampu temui sosokmu di sana

Manusia ramai datang, tersenyum gembira, namun tiada sedikitpun kau ada di antaranya

Aku membaur, tertawa dan bercanda, hanya untuk sembunyikan dalam-dalam bahwa pikiranku bekerja ganda

Sebagian melayang jauh entah kemana, sibuk menerka-terka

Sungguh ingin aku bertanya, tapi terlalu gentar akan dipandang sebelah mata

Aku adalah Sinderela,

yang untuk berbahagia cukup dengan menjalani waktu berdua bersama

Episode Kehidupan

Umur gue 19 tahun, plus plus. Dalam hitungan bulan bakalan mencapai angka 20. Setelah gue pikir-pikir, 20 tahun itu sebuah pencapaian bro, angka yang fantastis bagi kedua orang tua kita yang telah merawat dan mendidik dengan sepenuh hati.

Dalam 20 tahun, banyak hal terjadi. Meskipun gue yakin ga sebanyak temen-temen yang seusia sama gue (Gue emang kalah kalau masalah pengalaman :3).
Dari gue kecil yang susah banget buat disuruh makan, sampai gue yang selalu gercep dan tandas kalau soal makanan. Dari gue yang sering main ke rumah orang, ngacak-acak sampai sudut terdalam–sering minta makan juga, btw–sampai gue yang ngerasa canggung dan heran kenapa hal itu pernah gue lakukan. Banyak hal absurd yang nggak lo sangka-sangka bakal terjadi di hidup lo, tapi faktanya bener-bener kejadian. Sesuatu yang disebut perubahan.

Beberapa minggu yang lalu gue berkesempatan buat main ke gua lagi, gua ketiga dalam hidup gue (selain gua wisata yak :3 sebenernya pun gua wisata baru 2 gua dah keknya). Dulu, satu-dua tahun yang lalu nggak ada gue kepikiran bakal ngalamin yang namanya masuk ke gua vertikal. Seriusan. Boro-boro, baru tau kalau gua itu ada yang vertikal aja beberapa bulan yang lalu-_-

Lalu, satu hal yang sepele tapi nggak gue sangka-sangka, gue dulu selama SD, SMP, SMA, sampai tingkat 1 di perkuliahan nggak pernah ngelakuin apa yang namanya tidur di kelas pas guru lagi menjelaskan. Tapi, entah apa pemicunya, sejak kapan dimulai, gue tidur di kelas bro! (juga udah 2x skip kelas!) Itu bener-bener pencapaian. Ortu gue bakalan kaget parah kalau tau soal ini. Seorang Alfin, secara good girl-nya mereka. Meskipun gue sadar, gue nggak bisa menjelaskan kenapa perubahan-perubahan ini terjadi, pun berusaha kembali menjadi Alfin yang dulu lagi. Tapi gue tau satu hal, bibit-bibit pemberontak memang ada di diri gue. Gue tau pasti soal itu. Satu asumsi gue, kenapa gue memilih tidur di kelas di saat-saat tertentu, karena gue udah tau gimana asiknya main. Gaya belajar gue emang kinestetik, gue gampang bosen, dan hiperaktif. Jadi ketika ada hal yang bikin gue bosen, gue ngerasa hal itu ga menarik, gue lebih milih tidur. Semacam tubuh yang udah dikasih antibiotik 60%, kalau ada virus lagi yang nyerang, antibiotik 40% ga bakal bisa ngelawan virus itu. Nggak bakal mempan.
Tapi satu hal, gue suka belajar kok, tapi dengan cara gue sendiri.

Gue ulangin lagi, banyak hal yang terjadi. Entah dalam durasi singkat ataupun lama, perubahan pasti bermunculan. Itu bukan suatu kesalahan. Itu adalah salah satu rangkaian episode kehidupan.

Setiap episode, tiap-tiap kisah, pasti ada latar belakangnya, ada histori tersendiri, ada makna yang menyertai. Entah sejak kapan, tapi gue suka buat memahami setiap episode itu, mencari-cari makna di baliknya.

Seperti saat gue dihadapkan pilihan antara hasil SBMPTN atau hasil USM PKN STAN, kebimbangan yang gue hadapi membuat gue merenungi apa kiranya makna dibalik semua ini. Kenapa gue disuruh milih antara 2 hal itu. Dan saat itu yang gue temuin adalah mungkin gue lagi dilatih buat nggak egois dan lebih dewasa. Lalu saat pilihan telah ditetapkan, dan suatu akibat datang menyertai, makin tampak lah apa hikmah dibalik itu semua.

Baru-baru ini gue sampai di satu lagi episode kehidupan gue yang bener-bener asing. Yang bikin gue bingung harus ambil sikap bagaimana. Yang susah banget buat nemuin apa kira-kira makna di baliknya dibanding hal-hal yang gue alamin sebelumnya. Yang bikin gue yang biasanya selalu berpikir positif akan masa depan, dengan moto gue ”Tidak ada yang tidak mungkin.” jadi mikir kalau itu nggak relevan lagi dan membuat gue berpikir ulang.

Gue nggak berani blak-blak an soal apa itu yang lagi gue omongin, tapi akhirnya setelah berhari-hari gue berhasil nemuin maknanya, yang bener-bener nampar banget. Intinya episode kali ini mengubah pandangan gue soal suatu hal. Dari gue yang sebelumnya cenderung nge-judge dan punya pemikiran ”Ih, kok bisa ya. Kan bisa milih buat nggak kayak gitu.”, jadi punya pemikiran lain yang 180° dari sebelumnya setelah gue bener-bener berada di posisi itu, sebagai lakon utamanya.

Sama seperti kejutan-kejutan yang lainnya, episode satu ini datang dengan tiba-tiba. Gue nggak pernah ada pikiran sedikitpun hal ini bakal terjadi di hidup gue. Bener-bener nggak sama sekali. Tapi setelah gue pikir-pikir, gue coba runut alurnya kenapa gue bisa sampai di titik ini, gue sadar sebenernya episode kali ini nggak semengejutkan itu. Ini bukanlah suatu hal yang tiba-tiba. Dia melewati proses dulu, yang bener-bener smooth tanpa gue sadari. Dan ketika dia dekat, tau tau aja gue udah terjebak di dalamnya.

Sampai saat ini, meskipun gue udah tau satu hikmahnya, gue nggak tau keputusan apa yang harus gue ambil. It’s like I left it hanging. Atau kasarnya gue yang terlalu pengecut buat ngambil keputusan. Sepertinya gue tau jalan mana yang harus gue pilih, tapi sayangnya jalan satunya lebih menggiurkan buat manusia penuh dosa seperti gue ini terjerumus. Gue tau, sepertinya Tuhan sedang rindu gue. Dia iri karena gue mangkir dari tugas gue sebagai manusia, makhluk-Nya. Memanglah gue yang sekarang telah terdegradasi dari gue yang dulu.

Dengan nulis ini, gue makin paham mana yang bener mana yang keliru. Mana yang hitam, mana yang putih. Gue sadar kalau suatu kesalahan bila gue yang sebenernya tau bertingkah seakan-akan gue nggak tau apa-apa. Ini seakan gue dipanggil-panggil dan gue denger tapi pura-pura nggak tau dan nggak mau tau soal si pemanggil itu. Serius, gue jahat banget kalau gitu.

Oke. Bismillah, gue akan mulai melangkah. Menjauhi zona abu-abu yang gue ciptakan sendiri, menuju arah suara Sang Pemanggil itu.

Ya, sepertinya ini kesempatan untukku. Yang telah diberikan oleh-Nya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Pesan untuk Alfin di masa depan: Jangan lalai, sayangku.

Jumat, 1 Juni 2018.
03.33
1195

 

Kebisingan

Gue orangnya selalu pengen tau. Kenapa lu begini? Kenapa kok harus gini? Apa dasar kamu melakukan ini? Kenapa kok semuanya harus gitu?

Pertanyaan-pertanyaan bodoh sejenis itu yang sering bikin makan ati orang-orang yang gue ‘debat’.

Dan wow sekali ternyata ada temen-temen yang tidak mepermasalahkan kecerewetan gue dan dengan sabar hati menjelaskannya ke gue. Orang-orang yang jarang gue sadari, bahkan gue selalu kurang dan ingin menemukan orang yang bener-bener paham sama gue.

Gue ngerasa gue harus melakukan suatu perubahan. Gue tau ada banyak banget sifat dalam diri gue. Di mana tiap sifat itu saling tumpang tindih, saling mengalahkan dan sering salah sikon(situasi dan kondisi-red).

Mungkin untuk gue yang sejatinya kepopers(bukan Kpoppers), gue harus bisa memanfaatkan ‘kelebihan’ gue ini buat sesuatu yang lebih bermanfaat. Bukan sesuatu yang nggak berbobot dan cuma buat ajang menentang pendapat orang lain. Di mana hal itu cupu banget karena cuma orang yang deket sama gue yang kena semprot sama gue-,-

Di hari-hari gue, pasti kepala gue selalu penuh dengan pemikiran-pemikiran ngalor ngidul, ke masa depan maupun masa lalu, yang masuk akal maupun tidak. Segala hal seakan aku pertimbangkan. Seperti misal besok mau menemui guru buat minta surat keterangan, sewaktu tercetus pemikiran itu, sejak itulah gue bakal selalu mikirin apa-apa yang harus gue lakuin, semacam reka kejadian yang akan terjadi terpampang di pikiran gue.

Seharusnya kalau hal semacam itu gue pikirin, bahkan hal terkecil seperti gue mau ke kantin dan gue mau ngapain aja pun gue pikir dengan sungguh-sungguh, tentu gue bisa untuk setidaknya menahan hasrat gue yang demen banget kepo, sok tau, dan suka mempertanyakan alasan di balik sesuatu dan lebih mengutamakan untuk memikirkannya dulu sebelum bertanya. Dan seperti yang gue bilang, gua cuma cerewet ke temen-temen yang deket sama gue. Selebihnya terutama sama orang asing dan orang lebih tua, gue mendadak kaku banget, mematung :3 Padahal di momen semacam itulah(momen formal) otak gue penuh pertanyaan-pertanyaan dan hasrat kepo pun meluap-luap, namun apa yang terjadi? Gue hanya memendamnya dan ujung-ujunganya cuma mampu bertanya sama temen gue yang nggak jauh lebih tau dari gue.

Hal inilah masalahnya. Gue belum bisa mengendalikan di mana saat buat kepo kapan buat kalem. Kapan buat berpendapat, kapan buat diem. Banyak banget hal-hal yang menurut gue nggak pas dan selalu terjadi di hidup gue, seakan gue dikasih kesempatan buat memperbaikinya namun lagi-lagi gue mengulur waktu dan kesempatan itu kadaluarsa. Sering. Banget. Dan. Bikin. Galau.

Yang paling parah, gue tau itu keliru. Gue tau itu nggak baik buat gue. Gue tau gue pengen berubah. Tapi lagi-lagi seakan ada yang menahan gue. Seperti ada yang harus gue lakuin dulu sebelum ngelakuin ini. Tapi gue pikir itu cuma alasan cemen gue. Gue yang terlalu takut mengambil langkah awal. Gue yang ragu-ragu. Gue yang pesimis. Gue yang selalu mikir. Gue yang selalu jatuh dalam pemikiran gue sendiri. Ilusi yang belum terjadi. Belum ada. Bahkan tidak pernah ada. Hanya kita yang terlalu pengecut. Yang terikat oleh rasa takut. Punya jutaan alasan untuk menunda.

Selain ketakutan-ketakutan itu, ada hal lain yang mengganggu gue, yaitu ketidakpuasan. Semua yang tidak ada, semua keinginan gue, semua kerakusan gue, semua yang gue pengen itu ada, seperti sahabat yang memahami, teman yang sehati, keluarga yang menyayangi, sebenarnya mereka sudah ada, bahkan kita sudah punya modal buat menemukannya. Tapi cara kita mungkin salah. Mungkin karena kita sok tau, kita salah fokus, kita iri dengan orang lain, terlalu mementingkan kehidupan orang lain, sehingga lupa melihat diri kita sendiri. Lupa memperhatikan apa-apa yang sudah kita miliki. Apakah masih ada atau malah kita sia-siakan karena kurang bersyukur dan terlalu menganggapnya remeh.

Sebenarnya yang kita perlu lakukan hanyalah mengaturnya dengan tepat. Kita punya akal, kita punya nurani. Kita bisa berusaha dan merancang strategi. Tinggal kita sendiri mau apa tidak. Peduli atau tidak.

Terkadang apa yang kita lihat, berbeda dengan apa yang orang lain pahami. Kita tidak harus mengubah pemahaman orang lain itu. Memang siapa yang peduli? Bisa-bisa waktumu habis untuk mengurusi kehidupan orang lain. Jelas-jelas tidak efektif sama sekali.

Bila ingin mengubahnya. Ubahlah dirimu dahulu. Entah akhirnya prinsip mereka akan sejalan denganmu atau tidak, itu masalah nanti. Bila sudah memikirkan ending tapi nama tokoh pun masih belum tercetus, apa yang bisa diharapkan?

17/04/2016

N.b : Bahkan setelah menulis ini pun gue masih ragu. Padahal ada Allah swt. yang lebih tahu. Stop sok tahu untuk hal semacam ini. Percaya dan jalani. Maju jalan, jangan jalan di tempat apalagi istirahat di tempat.

Kompleksitas

Assalamu’alaikum.

Selamat sore para pengguna dunia maya, blogger pada khususnya.

Kali ini gue pengen ngomongin ‘keribetan’ istilah kerennya sih kompleksitas.

Pernah nggak sih kalian sendirian di kamar, duduk di pojokan gitu, mikirin tentang jati diri kalian. Siapa sih kalian sebenarnya? Untuk apa sih kalian hidup? Kalian ngapain sih tiap hari dateng ke sekolah, berangkat pagi, pulang petang?

Separah-parahnya lu pada, sesebel-sebelnya lu sama sekolah, tapi lu tetep berangkat aja. Ngapain?

Semua itu pasti ada motifnya, dari mulai pengen ngegosip bareng temen, ntah itu nongkrong bareng di kantin, pengen ngurusin organisasi, sampai yang pengen cari nilai, ya itulah alasan lu berangkat sekolah.

Kalau gue sendiri suka sama suasana sekolah. Ngebayangin fakta udah nggak sekolah lagi, alias udah nggak muda lagi, itu sedih, Bro. Susah rasanya buat gue bersikap dewasa. Nggak mau mencoba, yang ada pemaksaan. Kalau ditempatin di kondisi terburuk, harus bisa survive, nah itu yang menurut gue bisa bikin gue lebih berpikiran dewasa.

Balik lagi ke kompleksitas, gue rasa cuma segelintir orang yang tipe-tipe perenung. Yang dikit-dikit mikir. Mau apa-apa, dipikir dulu. Habis ngapain, mikir lagi. Kelihatannya ribet banget, yah. Ini yang gue anggap kompleksitas di diri seseorang.

Menurut gue, gue salah satu dari tipe manusia itu.

Menurut Myers Briggs personality, gue adalah INFP.

[ok] fimage-infp

INFP atau The Idealist/Healer.

 

Dari dulu sampai sekarang gue selalu ngerasa kalau gue ini aneh, gue ini berbeda. Gue ngerasa gue adalah satu-satunya yang begini modelnya, pribadi dengan berbagai macam sifat yang berlawanan–kompleks.

Gue sejak dulu tertarik sama psikologi. Berawal dari gue yang demen banget introspeksi diri; merenung, ngomong sendiri, menyesali dan berakhir dengan mengambil hikmah atas segala yang terjadi buat ngehibur diri.

Kenapa ngomong sendiri? Karena gue nggak biasa curhat sama orang lain sejak dulu. Kompleksitas gue yang pertama; gue suka banget berteman, punya banyak teman dari ujung timur hingga balik ke timur lagi tanpa memandang SARA, tapi gue nggak nyaman kalau terlalu deket sama orang lain, gue butuh kadar me time yang lebih banyak dibanding dengan orang-orang lain, kenapa? Karena udah kebiasaan sejak dulu dan udah bawaan dari sananya. Satu lagi, gue juga nggak gampang percaya sama orang lain.

Hal tadi berbenturan lagi dengan diri gue yang lain dimana gue pengen banget diperhatiin yang berujung dengan gue yang tiba-tiba pengen curhat ke siapa pun tentang masalah gue(tapi berusaha gue tahan, lemah banget ngumbar-umbar masalah ke orang lain).

Dan sifat tadi bertentangan dengan gue yang risih kalau terlalu diperhatiin dan takut ngelihat tatapan orang banyak berpusat ke gue(waktu maju presentasi, berdiri buat berpendapat).

Gue nggak nyaman dengan kondisi formal kayak gitu, tapi kalau udah cair, nyantai lagi, asik lagi, nggak perlu kaku-kakuan lagi, gue mah enjoy aja sama temen-temen. Kalau situasi formal tuh ibaratnya temen-temen kita berasa jadi orang asing yang nakutin, bikin gugup, bikin nggak pede. Dan berhubung gue jadi kayak gitu kalau ada orang yang lebih tua(read: guru) di dalam ruangan tersebut, gue baru bisa berasumsi kalau gue phobia guru :3

Apalagi coba yang bisa ngejelasin kondisi gue yang tiba-tiba takut dan salting sendiri kalau ada kesempatan-kesempatan unjuk diri macam itu, dan ketika kondisi itu kelar gue bisa balik lagi jadi enjoy lagi? Pengecut? Bermuka dua? Huh, mungkin aja.

Anehnya lagi, gue orangnya suka banget kompetisi. Gue suka unjuk diri. Gue pengen jadi yang terbaik di setiap kesempatan. Waktu radar kompetisi gue nyala, rasanya tuh deg-degan, mulut kerasa kering, keringat dingin di tangan, perut melilit. Nervous banget pokoknya. Saking pengennya jadi yang paling keren 😀

Meskipun begitu, gue orangnya moody banget. Kalau lagi nggak pengen ya bener-bener nggak pengen. Nggak melulu ambisius yang demen banget belajar dan kuper.

Gue akuin gue orangnya gampang banget berbaur. Mudah menyesuaikan dengan macam-macam tipe orang. Itu karena emang gue suka macam-macam hal mulai dari musik, bahasa, seni rupa, tari, matematika, dan masih banyak lagi, jadi kalau diajakin ngomong nyambung-nyambung aja, juga emang aslinya gue suka ngomong sih XD

Tapi ya tetep pilih-pilih temen juga berdasarkan kenyamanan gue. Gue cocoknya sama pribadi yang gimana, mereka baik apa enggak buat gue kedepannya, yah semacam itu lah.

Meskipun kalau kerja kelompok gue seringnya mendominasi dan bossy, seringnya ‘memaksakan’ pendapat dimana gue biasanya nyesel dan takut kalau udah nyakitin hati temen gue dengan cara ngomong gue yang ceplas-ceplos kalau lagi bad mood, dan gue yang bisa menggila banget kalau sama temen-temen, gue sebenernya orang yang kaku banget kalau sama orang baru/orang asing apalagi kalau yang orang tua, jadi malu-malu jaim gimana gitu :3 Tapi gue berusaha deketin juga kalau dia temen sebaya, ngikutin insting gue yang suka punya banyak temen :v Tapi maunya sih disapa duluan 😀 , dijamin deh abis itu gue jadi sok kenal sok dekat 😀

Gue orangnya pecinta kedamaian, nggak nyaman banget kalau ada di situasi berkonflik, pengennya cepet dikelarin tapi bingung gimana caranya, dan seringnya gue menghindar kalau konflik itu nggak secara langsung berhubungan sama gue :3

Umm.. segitu banyaknya gue kira udah cukup ngejelasin sebagian kompleksitas yang ada di diri gue. Yang sampai saat ini pun masih gue pikirin berulang kali(dengan diskusi sendiri tentunya).

Gue pengen tau, kira-kira ada nggak sih yang ngerasa kayak gue? Kali aja kita setipe.

Oh ya, penjelasan lebih tentang tipe kepribadian INFP bisa buka link : http://www.si-pedia.com/2013/12/tipe-kepribadian-infp.html

Di website itu juga lu bisa coba tes MBTI buat yang tertarik mempelajari diri sendiri 😀

See ya..

Wassalamualaikum~

Makna Kehidupan

Ini post pertama gue di sini, lama banget blog ini gue anggurin. Sejak gue lagi ngefans-ngefans nya sama Jang Geun Suk, sampai sekarang gue demen banget sama Running Man.

Pati, kota kelahiran gue.
Pati, kota kelahiran gue.

Pertama-tama, kenalin nama gue Alfina Widiseptia Artamevia. Sekarang gue kelas 11 di SMA N 1 Pati. Pasti kalian pada nggak tau mana itu Pati. Pati, kota kecil disebelah timur Kota Kudus, nah Kudus itu sebelah timurnya Kota Demak. Kalau lo nggak tau Kudus atau Demak, berarti lo nggak pernah belajar sejarah.

Oke, gitu aja kenalan kenalannya. Gue sekarang mau bahas soal kehidupan. Ceileh, emang apa yang gue tau soal kehidupan. Sok-sok an mau bahas kehidupan segala. Ehem, jadi gini, kemarin gue nonton dua film, dan semuanya ternyata membahas mengenai pilihan-pilihan dalam hidup. Nama filmnya Divergent sama Timeline . Yang satu film Amerika satunya film Thailand. Dan kedua film itu bikin gue merenung dan bikin otak gue kerja berat mikirin hidup gue. Jujur, gue orang yang suka banget tantangan. Menurut gue, orang yang kerja di kantor, berangkat pagi-pulang sore itu bukan gue banget. Setidaknya, gini nih yang gue pikirin…

Apakah terpikirkan pula oleh kalian hal yang sering kali aku pikirkan?

Jika disaat dilingkupi oleh kesunyian dan engkau mencoba merenungi masa lalu, tentang hal-hal yang telah engkau lewati, orang-orang yang ada dan pernah ada bersamamu dalam mengisi warna kehidupanmu, tentang kisah pahit manis kehidupan yang dulu telah engkau berhasil lewati meskipun disertai dengan keluhan dan keputus asaan…

Dan mencoba memikirkan apa yang akan datang menyapa keesokan harinya, tentang apa engkau, siapa engkau, seberapa berguna engkau bagi orang lain, seberapa besar engkau dicintai orang lain dengan tulus…

Sering kali hal itu menyakitkan, penyesalan yang datang dan sebagainya sehingga membuat kita lelah untuk terus menjalani semua ini…

Hari ini aku menemukan sesuatu yang penting, mungkin sebelumnya aku pernah merenungi tentang semua ini, namun terkadang aku terlupa akan hal tersebut…

Sesuatu tentang kehidupan.. arti kehidupan..

Banyak yang berkata, entah siapa yang menyatakannya pertama kali bahwa hidup itu pilihan.. memang benar, setiap yang kita lalui dalam kehidupan kita ini adalah pilihan kita, disaat kita memilih pasti ada yang lain yang tidak menjadi pilihan kita.. sadarkah kalian bahwa pilihan-pilihan yang setiap hari kita lakukan itu membawa dampak yang besar kemudian? Memilih memang sulit, karena harus ada yang kita lepaskan dari pilihan kita, merelakan kehilangan sesuatu yang tidak kita pilih, itu adalah hal yang membuat memilih itu menyakitkan, dan penyesalan membuat kita menyadari betapa payahnya kita dalam membuat pilihan… jadi, jika penyesalan itu muncul, apakah sebuah pilihan yang kita putuskan itu keliru? Kita manusia, makhluk paling sempurna ciptaan Allah, karena dikaruniai dengan akal pikiran… namun, diantara manusia itu sendiri tidak ada yang sempurna, semuanya memiliki celah kecil yang disebut kelemahan, yang seharusnya dapat digunakan untuk penyemangat dalam menjalani kehidupan ini.

Apakah kalian merasa posisi kalian sulit dan ingin bebas dalam menjalani hidup ini? Ingin menunjukkan diri kita kepada dunia namun bingung dan terkadang cara yang digunakan itu keliru. Apakah kalian merasa lebih mudah menemukan kelemahan kalian dibandingkan dengan menggali potensi terbesar yang kalian miliki? Jika iya, berarti kita sama. Bersyukurlah kalian yang telah menemukan apa impian kalian. Menemukan apa tujuan hidup kalian, apa yang ingin kalian raih, kalian miliki, kalian dapatkan. Impian menjadikan kita dalam menjalani kehidupan ini menjadi lebih terarah, seseorang yang ingin mengembangkan department store yang terkenal tentunya akan memulai langkah awal dengan mempelajari tentang ekonomi, atau mungkin politik dalam persaingan sehat antar department store. Wah, bahagia sekali jika kalian sudah memiliki impian akan di bawa kemana kesempatan hidup yang singkat ini.

Hidup itu singkat, banyak hal yang terjadi, sesuatu yang tanpa kita sadari terlewat begitu saja, kesempatan besar yang berlalu begitu saja, tanpa bisa kita putar waktu kembali untuk mendapatkannya. Bisa dikatakan semua yang ada di dunia ini terbatas, tersusun rapi, bersekat-sekat, penuh aturan..

Begitulah kehidupan, sesuatu yang semakin membuat pening bila dipirkan maupun disesali saja. Merenung itu perlu, introspeksi diri sangat dibutuhkan, namun jangan terlalu bersedih membayangkan angan-angan yang terlewatkan. Hadapi saja apa yang datang, berlatihlah, yakinilah, dan pilihlah sesuatu yang memang benar-benar engkau inginkan dalam hidupmu tentunya dengan masih memperhatikan apakah itu merugikan orang lain atau tidak, karena kemungkinan yang bagus tidak pasti datang di lain waktu dan orang lain juga memiliki kesempatan yang sama seperti kita.. Karena kita hanyalah MANUSIA.

 

 

 

 

 

 

Pati, 5/11/2014

Alf.