Sesuatu untuk Kamu

Kuberi tau sesuatu, Nak

Dunia ini sudah renta

Cukup renta untuk turut serta mengurusi masalah remehmu jua

Sudah kenyanglah dia dengan itu semua

Baginya kamu bukan siapa-siapa

Awas, jangan kecewa

Sekali lagi kuingatkan kamu, Nak

Dunia ini terus berlari tanpa menunggumu serta

Dirimu ya dirimu, dirinya tidak mau tau suatu apa

Kamu bukan siapa-siapa, jangan sampai lupa, ya

Jadi, berlari lah juga, segera

Jangan pernah mengeluhkan lelahnya harimu kepadanya

Dengan dirimu sendiri kamu bisa

 


 

Eh, tapi bisa apa, ya?

Maksudku, apa bisa, ya?

Hehe.

06.06

24/10/2018

Pada Zaman Dahulu Kala

Aku adalah Sinderela,

yang harus pergi meninggalkan istana saat tengah malam menyapa

Aku adalah Sinderela,

yang setiap malamnya selalu penuh harap pagi kan datang segera, hingga datanglah kesempatan untuk berjumpa

Pagi-pagi sekali aku sudah siap sedia, menyambut takdirku untuk setetes momen berharga

Kecewa akan menerpa bila aku tak mampu temui sosokmu di sana

Manusia ramai datang, tersenyum gembira, namun tiada sedikitpun kau ada di antaranya

Aku membaur, tertawa dan bercanda, hanya untuk sembunyikan dalam-dalam bahwa pikiranku bekerja ganda

Sebagian melayang jauh entah kemana, sibuk menerka-terka

Sungguh ingin aku bertanya, tapi terlalu gentar akan dipandang sebelah mata

Aku adalah Sinderela,

yang untuk berbahagia cukup dengan menjalani waktu berdua bersama

Black Hole

Kamu tunjukkan padaku hatimu,
Terbuka luas untuk kuselami dengan bebas

Hangatnya enggan membuatku bergegas,
Kedamaian itu melingkupiku puas

Dirimu proyeksikan superhero favoritku,
Ketidaksempurnaanmu yang membuatku terbelenggu,
Dalam rengkuhmu lantang kuteriakkan ini rumah tinggalku,
Dan senyummu panorama terindah bagi mataku

Rasa manis datang menerpa,
Bukan hanya sapa namun hendak bermukim lama,
Sungguh ini rasa yang beda,
Sempat buatku terbata membacanya

Tiada yang lain hanya dirimu,
Poros revolusiku

 

—–
7.15 a.m
22/07/2017

Deceiving Myself

[Better hearing this song (https://youtu.be/mHN-WIiXuOs) while reading my random thought]


Do you ever feel some exact feeling but you never tend to have it then you’re trying to kill it?

Do you ever thinking so hard until it’s blurred and you can’t decide what should you do and in the end you choose the one that’s not what you really want?

I, always facing that condition.

And I, ended up not hearing what I really want.

But, what’s that I really want seriously?!

I don’t know either.

I’m 19 years old. Apparently not a kid anymore, the fact that I always trying to forget. So miserable, right? It’s just I like being a kid. They’re so cute, innocent, and live a peaceful life (I’m longing for that right now). Whatever people think, I will naturally act childish, although I’m not sure whether it’s appropriately done by an adult or not.

I’m 19 years old and I still don’t know myself even though I’m searching for what’s the real me continuously.

When it comes choosing what I like, I still confused. I can’t vocally bold showing what I want, afraid of hurting people around me. My beloved one.

And what I always do is none other than deceiving myself. Clearing my mind and making some reasons (or excuses) why I should do this one instead of the others. Searching what’s interesting on those activities that’ll make me happy to struggle with.

That’s because I can’t stand still if I have no motive. It’ll be so depressing and I can’t make a single move towards it. I can’t push myself, I will ruin everything if I ever do it, like all of my life will be fall apart. So, I sweetly persuade myself and trying to find a beautiful thing on that choice. So confusing right? Like there’s two people on my mind, plus two others on my heart. They have their own war.

And in the end, I still doubting all of my choice that had been made. That’s haunting me, during my entire life. And I must be deceiving myself over and over.

Do you happen (or not) encounter something like that?

Kebisingan

Gue orangnya selalu pengen tau. Kenapa lu begini? Kenapa kok harus gini? Apa dasar kamu melakukan ini? Kenapa kok semuanya harus gitu?

Pertanyaan-pertanyaan bodoh sejenis itu yang sering bikin makan ati orang-orang yang gue ‘debat’.

Dan wow sekali ternyata ada temen-temen yang tidak mepermasalahkan kecerewetan gue dan dengan sabar hati menjelaskannya ke gue. Orang-orang yang jarang gue sadari, bahkan gue selalu kurang dan ingin menemukan orang yang bener-bener paham sama gue.

Gue ngerasa gue harus melakukan suatu perubahan. Gue tau ada banyak banget sifat dalam diri gue. Di mana tiap sifat itu saling tumpang tindih, saling mengalahkan dan sering salah sikon(situasi dan kondisi-red).

Mungkin untuk gue yang sejatinya kepopers(bukan Kpoppers), gue harus bisa memanfaatkan ‘kelebihan’ gue ini buat sesuatu yang lebih bermanfaat. Bukan sesuatu yang nggak berbobot dan cuma buat ajang menentang pendapat orang lain. Di mana hal itu cupu banget karena cuma orang yang deket sama gue yang kena semprot sama gue-,-

Di hari-hari gue, pasti kepala gue selalu penuh dengan pemikiran-pemikiran ngalor ngidul, ke masa depan maupun masa lalu, yang masuk akal maupun tidak. Segala hal seakan aku pertimbangkan. Seperti misal besok mau menemui guru buat minta surat keterangan, sewaktu tercetus pemikiran itu, sejak itulah gue bakal selalu mikirin apa-apa yang harus gue lakuin, semacam reka kejadian yang akan terjadi terpampang di pikiran gue.

Seharusnya kalau hal semacam itu gue pikirin, bahkan hal terkecil seperti gue mau ke kantin dan gue mau ngapain aja pun gue pikir dengan sungguh-sungguh, tentu gue bisa untuk setidaknya menahan hasrat gue yang demen banget kepo, sok tau, dan suka mempertanyakan alasan di balik sesuatu dan lebih mengutamakan untuk memikirkannya dulu sebelum bertanya. Dan seperti yang gue bilang, gua cuma cerewet ke temen-temen yang deket sama gue. Selebihnya terutama sama orang asing dan orang lebih tua, gue mendadak kaku banget, mematung :3 Padahal di momen semacam itulah(momen formal) otak gue penuh pertanyaan-pertanyaan dan hasrat kepo pun meluap-luap, namun apa yang terjadi? Gue hanya memendamnya dan ujung-ujunganya cuma mampu bertanya sama temen gue yang nggak jauh lebih tau dari gue.

Hal inilah masalahnya. Gue belum bisa mengendalikan di mana saat buat kepo kapan buat kalem. Kapan buat berpendapat, kapan buat diem. Banyak banget hal-hal yang menurut gue nggak pas dan selalu terjadi di hidup gue, seakan gue dikasih kesempatan buat memperbaikinya namun lagi-lagi gue mengulur waktu dan kesempatan itu kadaluarsa. Sering. Banget. Dan. Bikin. Galau.

Yang paling parah, gue tau itu keliru. Gue tau itu nggak baik buat gue. Gue tau gue pengen berubah. Tapi lagi-lagi seakan ada yang menahan gue. Seperti ada yang harus gue lakuin dulu sebelum ngelakuin ini. Tapi gue pikir itu cuma alasan cemen gue. Gue yang terlalu takut mengambil langkah awal. Gue yang ragu-ragu. Gue yang pesimis. Gue yang selalu mikir. Gue yang selalu jatuh dalam pemikiran gue sendiri. Ilusi yang belum terjadi. Belum ada. Bahkan tidak pernah ada. Hanya kita yang terlalu pengecut. Yang terikat oleh rasa takut. Punya jutaan alasan untuk menunda.

Selain ketakutan-ketakutan itu, ada hal lain yang mengganggu gue, yaitu ketidakpuasan. Semua yang tidak ada, semua keinginan gue, semua kerakusan gue, semua yang gue pengen itu ada, seperti sahabat yang memahami, teman yang sehati, keluarga yang menyayangi, sebenarnya mereka sudah ada, bahkan kita sudah punya modal buat menemukannya. Tapi cara kita mungkin salah. Mungkin karena kita sok tau, kita salah fokus, kita iri dengan orang lain, terlalu mementingkan kehidupan orang lain, sehingga lupa melihat diri kita sendiri. Lupa memperhatikan apa-apa yang sudah kita miliki. Apakah masih ada atau malah kita sia-siakan karena kurang bersyukur dan terlalu menganggapnya remeh.

Sebenarnya yang kita perlu lakukan hanyalah mengaturnya dengan tepat. Kita punya akal, kita punya nurani. Kita bisa berusaha dan merancang strategi. Tinggal kita sendiri mau apa tidak. Peduli atau tidak.

Terkadang apa yang kita lihat, berbeda dengan apa yang orang lain pahami. Kita tidak harus mengubah pemahaman orang lain itu. Memang siapa yang peduli? Bisa-bisa waktumu habis untuk mengurusi kehidupan orang lain. Jelas-jelas tidak efektif sama sekali.

Bila ingin mengubahnya. Ubahlah dirimu dahulu. Entah akhirnya prinsip mereka akan sejalan denganmu atau tidak, itu masalah nanti. Bila sudah memikirkan ending tapi nama tokoh pun masih belum tercetus, apa yang bisa diharapkan?

17/04/2016

N.b : Bahkan setelah menulis ini pun gue masih ragu. Padahal ada Allah swt. yang lebih tahu. Stop sok tahu untuk hal semacam ini. Percaya dan jalani. Maju jalan, jangan jalan di tempat apalagi istirahat di tempat.