Karma atau Drama?

Hei, gue di sini. Pengen ngerambling nggak jelas yang lagi-lagi soal kehidupan.

Kalau lu perhatiin, setiap manusia itu berubah, ritme kehidupan di bumi juga berubah. Yang sering nggak disadari adalah perubahan pada diri sendiri.

Gue selalu ngerasa kalau gue nggak kenal sama diri gue sendiri, entah berapa kali pun gue mikir dan merenung soal jati diri gue (agak geli bahasanya :3). Tapi anehnya, di saat gue memikirkan hal-hal yang berbeda, gue bisa sadar. Gue bisa inget dan tau kalau dulu gue nggak bernah berpikiran seperti itu sebelumnya.

Di dalam hidup gue, udah biasa yang namanya gue nangis. Itu seperti sebuah siklus. Bahkan kalau lama nggak nangis, padahal dada udah sesak banget, gue pasti nyeletuk “Lama nggak nangis ya, kapan deh terakhir kali nangis?”. Aneh nggak menurut lu?
Dan gue rasa, makin ke sini, siklus itu udah makin nggak bener. Momen nangis itu datangnya jadi lebih cepet, dan episode feeling down yang gue rasain makin ke sini makin lama ilangnya. Gue berusaha nyari tau apa yang salah. Tapi belum nemu sampai sekarang, termasuk apa yang harus gue lakuin.

Gue ngerasa sering kemakan karma. Sebenernya gue nggak tau pasti apa makna dari karma itu sendiri. Sering denger kata itu dari orang-orang zaman sekarang yang seneng main umpat di medsos (hilih, kek bukan dari zaman sekarang aja lu nut).
Gue ngerasa apa yang gue alamin akhir-akhir ini adalah salah satu karma yang gue terima. Nggak tanpa alasan gue bisa menyimpulkan begitu. Soalnya sebelum-sebelumnya juga pernah terjadi ‘karma’ itu.

Pernah suatu waktu gue mikir dalam hati soal orang. Kurang lebih “Eh, tuh orang kok kalau senyum gusinya sampai keliatan gitu ya?”, dan entah sejak kapan gue kalau ketawa jadi lebar banget samapai gusi gue keliatan, padahal jauh yang bisa gue inget, gue sebelumnya kalau ketawa sempit banget (apa sebelumnya emang gue yang ga bahagia wkwkwk). Lalu ada lagi, sejenis sama yang sebelumnya, dan lagi-lagi gue mengalami apa yang kubilang dalam hati tadi.

Yang paling barusan dan yang paling serem adalah soal cinta beda agama. Sebelum gue ngerasain gimana sensasinya suka sama orang yang agamanya beda sama gue, pandangan gue soal hubungan beda agama tuh begini: “Kenapa harus beda agama? Kan banyak yang seagama. Kok bisa ya mereka memutuskan menjalani hubungan beda agama? Kan susah.”, yah pemikiran-pemikiran macam gitu lah. Naif dan bodoh banget kan gue? wkwk. Entah kenapa gue sebelumnya nggak nyadar kalau hubungan beda agama ya sama kayak hubungan antara dua manusia seperti biasanya. Nggak ada bedanya. Suka ya suka, lu nggak bisa milih mau suka ke siapa. Kalau bisa milih mah udah damai dunia ini kali wkwk. Gue sendiri heran dan bener-bener baru paham waktu ngerasain sendiri meskipun gue ngerasa gue orangnya open-minded soal semua hal wkwk.

Gue anggap itu karma, karena ya gue serasa ditampar langsung dengan hal-hal yang sebelumnya gue omongin secara sok tau dalam hati. Gara-gara itu semua gue yang orangnya sok tau, langsung memegang kata-kata: “You’ll never understand until it happens to you.”

Dan selanjutnya, ‘karma’ yang paling menyedihkan bagi gue. Gue kenal seseorang yang punya penyakit. Bukan fisik, tapi non fisik atau mental. Dulu, dulu banget gue bilang, lagi-lagi pemikiran dalam hati gue, “Apa efeknya obat, bukannya malah menyakiti diri dengan menimbun bahan kimia sebanyak itu di tubuh? Kan bukan sakit fisik, harusnya bisa disembuhin dari diri sendiri. Bener kalau semuanya lewat pikiran. Jadi, apa susahnya sih buat nggak mikir kek gitu? Apa susahnya buat mengalihkan dari pikiran-pikiran buruk yang jadiin diri sendiri sakit? Kan nggak enak sakit begitu, gara-gara pikiran sendiri”. Begitulah pemikiran gue saat itu, kira-kira saat gue SMP. Masih bisa gue inget betapa gemesnya gue ngelihat dia kesakitan dan mengeluh, betapa nggak pahamnya gue saat itu.

Tuhan menamparku lagi lewat ‘karma’. Gue ngerasain semuanya, kurang lebih apa yang dia rasain. Gue sadar betapa bodoh dan nggak berhaknya diri gue buat ngomong semacam itu meskipun cuma dalam hati. Sekarang gue ngerasain betapa nggak terimanya gue sama diri gue sendiri. gue yang sadar kalau pemikiran-pemikiran buruk di kepala gue salah, tapi gue tetep aja melakukan hal salah itu. Perasaan itu sebenernya udah sering gue alamin, dan bahkan udah gue anggep sebagai karakter gue saking emang begitulah yang selalu gue lakuin. Baru sekarang gue sadar dan inget soal apa yang dulu gue pikirin soal mengendalikan pikiran. Gue yang dulu anggap itu hal yang gampang, dan dengan seenaknya menggerutu dalam hati tentang kenapa dia nggak mengubah pikirannya ke arah hal-hal positif. Gue sekarang paham, dia pun pasti nggak mau merasakan semua itu, perasaan bersalah dan pertentangan dengan dirinya sendiri. Gue paham, dia juga pasti ingin berubah. Nggak ada orang yang mau pikirannya penuh dihantui dengan pemikiran-pemikiran yang nggak lu inginkan.

Gue seneng, makin ke sini makin banyak yang mengungkap soal mental health. Makin banyak yang aware soal hal yang nggak nampak dengan sekali lihat ini. Gue berharap sama diri gue sendiri juga buat lebih peduli sama sekitar dan nggak self-centered. Tiap orang butuh perlakuan yang berbeda-beda. Tapi mungkin karena itu gue malah takut salah langkah saat pengen menunjukkan kalau gue ada buat kalian.

Menurut gue itulah beberapa ‘karma’ yang pernah gue alamin. Mungkin bagi sebagian atau banyak orang tingkah gue over dan banyak drama. Gue yang sering tiba-tiba teriak lah, reaksi berlebihan lah, suara ketawa yang kenceng lah. Gue sadar itu. Gue juga kadang mikir kenapa gue bertingkah seperti itu.

Lalu akhir-akhir ini gue juga ngerasa makin aneh. Gue emang orang yang khawatiran, overthinking dan perfeksionis. Sebenernya geli juga nyebut gue perfeksionis di saat gue juga punya sifat procrastinate. Tapi akhir-akhir ini gue merasa ada yang salah sama pikiran gue. Rasa khawatir gue makin bertambah dan gue juga takut tanpa tau apa yang gue takutin. Gue yang dari dulu emang sering mikir jelek ke diri sendiri semakin parah akhir-akhir ini. Jujur gue nggak suka gue yang begini, gue juga nggak suka gue yang menarik diri dari orang-orang, gue yang lelah untuk melakukan hal-hal yang gue senangi, gue yang menganggap semuanya nggak tau apa-apa soal gue dan nggak mau mereka ikut terlibat di dalam masalah gue. Maaf kalau gue aneh dan sangat sulit dipahami.

Sebenernya nggak tau ini keputusan salah atau bener buat nulis ini semua di blog, tapi gue pengen menuangkannya biar nggak terus-terusan mendekam di kepala gue aja.

Terima kasih.


Gue ngedengerin itu waktu nulis ini.
Such a calm melody to my clamorous mind.

Hoping you having a good day 🙂
Alfina

Episode Kehidupan

Umur gue 19 tahun, plus plus. Dalam hitungan bulan bakalan mencapai angka 20. Setelah gue pikir-pikir, 20 tahun itu sebuah pencapaian bro, angka yang fantastis bagi kedua orang tua kita yang telah merawat dan mendidik dengan sepenuh hati.

Dalam 20 tahun, banyak hal terjadi. Meskipun gue yakin ga sebanyak temen-temen yang seusia sama gue (Gue emang kalah kalau masalah pengalaman :3).
Dari gue kecil yang susah banget buat disuruh makan, sampai gue yang selalu gercep dan tandas kalau soal makanan. Dari gue yang sering main ke rumah orang, ngacak-acak sampai sudut terdalam–sering minta makan juga, btw–sampai gue yang ngerasa canggung dan heran kenapa hal itu pernah gue lakukan. Banyak hal absurd yang nggak lo sangka-sangka bakal terjadi di hidup lo, tapi faktanya bener-bener kejadian. Sesuatu yang disebut perubahan.

Beberapa minggu yang lalu gue berkesempatan buat main ke gua lagi, gua ketiga dalam hidup gue (selain gua wisata yak :3 sebenernya pun gua wisata baru 2 gua dah keknya). Dulu, satu-dua tahun yang lalu nggak ada gue kepikiran bakal ngalamin yang namanya masuk ke gua vertikal. Seriusan. Boro-boro, baru tau kalau gua itu ada yang vertikal aja beberapa bulan yang lalu-_-

Lalu, satu hal yang sepele tapi nggak gue sangka-sangka, gue dulu selama SD, SMP, SMA, sampai tingkat 1 di perkuliahan nggak pernah ngelakuin apa yang namanya tidur di kelas pas guru lagi menjelaskan. Tapi, entah apa pemicunya, sejak kapan dimulai, gue tidur di kelas bro! (juga udah 2x skip kelas!) Itu bener-bener pencapaian. Ortu gue bakalan kaget parah kalau tau soal ini. Seorang Alfin, secara good girl-nya mereka. Meskipun gue sadar, gue nggak bisa menjelaskan kenapa perubahan-perubahan ini terjadi, pun berusaha kembali menjadi Alfin yang dulu lagi. Tapi gue tau satu hal, bibit-bibit pemberontak memang ada di diri gue. Gue tau pasti soal itu. Satu asumsi gue, kenapa gue memilih tidur di kelas di saat-saat tertentu, karena gue udah tau gimana asiknya main. Gaya belajar gue emang kinestetik, gue gampang bosen, dan hiperaktif. Jadi ketika ada hal yang bikin gue bosen, gue ngerasa hal itu ga menarik, gue lebih milih tidur. Semacam tubuh yang udah dikasih antibiotik 60%, kalau ada virus lagi yang nyerang, antibiotik 40% ga bakal bisa ngelawan virus itu. Nggak bakal mempan.
Tapi satu hal, gue suka belajar kok, tapi dengan cara gue sendiri.

Gue ulangin lagi, banyak hal yang terjadi. Entah dalam durasi singkat ataupun lama, perubahan pasti bermunculan. Itu bukan suatu kesalahan. Itu adalah salah satu rangkaian episode kehidupan.

Setiap episode, tiap-tiap kisah, pasti ada latar belakangnya, ada histori tersendiri, ada makna yang menyertai. Entah sejak kapan, tapi gue suka buat memahami setiap episode itu, mencari-cari makna di baliknya.

Seperti saat gue dihadapkan pilihan antara hasil SBMPTN atau hasil USM PKN STAN, kebimbangan yang gue hadapi membuat gue merenungi apa kiranya makna dibalik semua ini. Kenapa gue disuruh milih antara 2 hal itu. Dan saat itu yang gue temuin adalah mungkin gue lagi dilatih buat nggak egois dan lebih dewasa. Lalu saat pilihan telah ditetapkan, dan suatu akibat datang menyertai, makin tampak lah apa hikmah dibalik itu semua.

Baru-baru ini gue sampai di satu lagi episode kehidupan gue yang bener-bener asing. Yang bikin gue bingung harus ambil sikap bagaimana. Yang susah banget buat nemuin apa kira-kira makna di baliknya dibanding hal-hal yang gue alamin sebelumnya. Yang bikin gue yang biasanya selalu berpikir positif akan masa depan, dengan moto gue ”Tidak ada yang tidak mungkin.” jadi mikir kalau itu nggak relevan lagi dan membuat gue berpikir ulang.

Gue nggak berani blak-blak an soal apa itu yang lagi gue omongin, tapi akhirnya setelah berhari-hari gue berhasil nemuin maknanya, yang bener-bener nampar banget. Intinya episode kali ini mengubah pandangan gue soal suatu hal. Dari gue yang sebelumnya cenderung nge-judge dan punya pemikiran ”Ih, kok bisa ya. Kan bisa milih buat nggak kayak gitu.”, jadi punya pemikiran lain yang 180° dari sebelumnya setelah gue bener-bener berada di posisi itu, sebagai lakon utamanya.

Sama seperti kejutan-kejutan yang lainnya, episode satu ini datang dengan tiba-tiba. Gue nggak pernah ada pikiran sedikitpun hal ini bakal terjadi di hidup gue. Bener-bener nggak sama sekali. Tapi setelah gue pikir-pikir, gue coba runut alurnya kenapa gue bisa sampai di titik ini, gue sadar sebenernya episode kali ini nggak semengejutkan itu. Ini bukanlah suatu hal yang tiba-tiba. Dia melewati proses dulu, yang bener-bener smooth tanpa gue sadari. Dan ketika dia dekat, tau tau aja gue udah terjebak di dalamnya.

Sampai saat ini, meskipun gue udah tau satu hikmahnya, gue nggak tau keputusan apa yang harus gue ambil. It’s like I left it hanging. Atau kasarnya gue yang terlalu pengecut buat ngambil keputusan. Sepertinya gue tau jalan mana yang harus gue pilih, tapi sayangnya jalan satunya lebih menggiurkan buat manusia penuh dosa seperti gue ini terjerumus. Gue tau, sepertinya Tuhan sedang rindu gue. Dia iri karena gue mangkir dari tugas gue sebagai manusia, makhluk-Nya. Memanglah gue yang sekarang telah terdegradasi dari gue yang dulu.

Dengan nulis ini, gue makin paham mana yang bener mana yang keliru. Mana yang hitam, mana yang putih. Gue sadar kalau suatu kesalahan bila gue yang sebenernya tau bertingkah seakan-akan gue nggak tau apa-apa. Ini seakan gue dipanggil-panggil dan gue denger tapi pura-pura nggak tau dan nggak mau tau soal si pemanggil itu. Serius, gue jahat banget kalau gitu.

Oke. Bismillah, gue akan mulai melangkah. Menjauhi zona abu-abu yang gue ciptakan sendiri, menuju arah suara Sang Pemanggil itu.

Ya, sepertinya ini kesempatan untukku. Yang telah diberikan oleh-Nya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Pesan untuk Alfin di masa depan: Jangan lalai, sayangku.

Jumat, 1 Juni 2018.
03.33
1195

 

Kebisingan

Gue orangnya selalu pengen tau. Kenapa lu begini? Kenapa kok harus gini? Apa dasar kamu melakukan ini? Kenapa kok semuanya harus gitu?

Pertanyaan-pertanyaan bodoh sejenis itu yang sering bikin makan ati orang-orang yang gue ‘debat’.

Dan wow sekali ternyata ada temen-temen yang tidak mepermasalahkan kecerewetan gue dan dengan sabar hati menjelaskannya ke gue. Orang-orang yang jarang gue sadari, bahkan gue selalu kurang dan ingin menemukan orang yang bener-bener paham sama gue.

Gue ngerasa gue harus melakukan suatu perubahan. Gue tau ada banyak banget sifat dalam diri gue. Di mana tiap sifat itu saling tumpang tindih, saling mengalahkan dan sering salah sikon(situasi dan kondisi-red).

Mungkin untuk gue yang sejatinya kepopers(bukan Kpoppers), gue harus bisa memanfaatkan ‘kelebihan’ gue ini buat sesuatu yang lebih bermanfaat. Bukan sesuatu yang nggak berbobot dan cuma buat ajang menentang pendapat orang lain. Di mana hal itu cupu banget karena cuma orang yang deket sama gue yang kena semprot sama gue-,-

Di hari-hari gue, pasti kepala gue selalu penuh dengan pemikiran-pemikiran ngalor ngidul, ke masa depan maupun masa lalu, yang masuk akal maupun tidak. Segala hal seakan aku pertimbangkan. Seperti misal besok mau menemui guru buat minta surat keterangan, sewaktu tercetus pemikiran itu, sejak itulah gue bakal selalu mikirin apa-apa yang harus gue lakuin, semacam reka kejadian yang akan terjadi terpampang di pikiran gue.

Seharusnya kalau hal semacam itu gue pikirin, bahkan hal terkecil seperti gue mau ke kantin dan gue mau ngapain aja pun gue pikir dengan sungguh-sungguh, tentu gue bisa untuk setidaknya menahan hasrat gue yang demen banget kepo, sok tau, dan suka mempertanyakan alasan di balik sesuatu dan lebih mengutamakan untuk memikirkannya dulu sebelum bertanya. Dan seperti yang gue bilang, gua cuma cerewet ke temen-temen yang deket sama gue. Selebihnya terutama sama orang asing dan orang lebih tua, gue mendadak kaku banget, mematung :3 Padahal di momen semacam itulah(momen formal) otak gue penuh pertanyaan-pertanyaan dan hasrat kepo pun meluap-luap, namun apa yang terjadi? Gue hanya memendamnya dan ujung-ujunganya cuma mampu bertanya sama temen gue yang nggak jauh lebih tau dari gue.

Hal inilah masalahnya. Gue belum bisa mengendalikan di mana saat buat kepo kapan buat kalem. Kapan buat berpendapat, kapan buat diem. Banyak banget hal-hal yang menurut gue nggak pas dan selalu terjadi di hidup gue, seakan gue dikasih kesempatan buat memperbaikinya namun lagi-lagi gue mengulur waktu dan kesempatan itu kadaluarsa. Sering. Banget. Dan. Bikin. Galau.

Yang paling parah, gue tau itu keliru. Gue tau itu nggak baik buat gue. Gue tau gue pengen berubah. Tapi lagi-lagi seakan ada yang menahan gue. Seperti ada yang harus gue lakuin dulu sebelum ngelakuin ini. Tapi gue pikir itu cuma alasan cemen gue. Gue yang terlalu takut mengambil langkah awal. Gue yang ragu-ragu. Gue yang pesimis. Gue yang selalu mikir. Gue yang selalu jatuh dalam pemikiran gue sendiri. Ilusi yang belum terjadi. Belum ada. Bahkan tidak pernah ada. Hanya kita yang terlalu pengecut. Yang terikat oleh rasa takut. Punya jutaan alasan untuk menunda.

Selain ketakutan-ketakutan itu, ada hal lain yang mengganggu gue, yaitu ketidakpuasan. Semua yang tidak ada, semua keinginan gue, semua kerakusan gue, semua yang gue pengen itu ada, seperti sahabat yang memahami, teman yang sehati, keluarga yang menyayangi, sebenarnya mereka sudah ada, bahkan kita sudah punya modal buat menemukannya. Tapi cara kita mungkin salah. Mungkin karena kita sok tau, kita salah fokus, kita iri dengan orang lain, terlalu mementingkan kehidupan orang lain, sehingga lupa melihat diri kita sendiri. Lupa memperhatikan apa-apa yang sudah kita miliki. Apakah masih ada atau malah kita sia-siakan karena kurang bersyukur dan terlalu menganggapnya remeh.

Sebenarnya yang kita perlu lakukan hanyalah mengaturnya dengan tepat. Kita punya akal, kita punya nurani. Kita bisa berusaha dan merancang strategi. Tinggal kita sendiri mau apa tidak. Peduli atau tidak.

Terkadang apa yang kita lihat, berbeda dengan apa yang orang lain pahami. Kita tidak harus mengubah pemahaman orang lain itu. Memang siapa yang peduli? Bisa-bisa waktumu habis untuk mengurusi kehidupan orang lain. Jelas-jelas tidak efektif sama sekali.

Bila ingin mengubahnya. Ubahlah dirimu dahulu. Entah akhirnya prinsip mereka akan sejalan denganmu atau tidak, itu masalah nanti. Bila sudah memikirkan ending tapi nama tokoh pun masih belum tercetus, apa yang bisa diharapkan?

17/04/2016

N.b : Bahkan setelah menulis ini pun gue masih ragu. Padahal ada Allah swt. yang lebih tahu. Stop sok tahu untuk hal semacam ini. Percaya dan jalani. Maju jalan, jangan jalan di tempat apalagi istirahat di tempat.